Minggu, 28 Februari 2016

TETESAN DUA AIR



Mentari pagi terlihat mengemukakan senyum, burung- burung berkicau dengan merdu di depan rumah. Teriakan gaduh kuda besi di jalanan menambah keceriaan pada pagi hari. Duduklah seorang lelaki berjenggot tebal,
kulit keriput dengan baju compang camping dalam keadaan tak berupa, di hadapan lelaki berjenggot  banyak tumpukan rejeki yang bau dan kotor dan di sulap menjadi  bahan kehidupan sehari- hari. Di tengah kehidupan orang modern yang bergelimang harta, ternyata masih ada orang yang merasakan kehidupan yang keras dan pahit. 
Dari tumpukan rejeki, seorang lelaki berjenggot membawa hasil yang diperolehnya ke salah satu tempat penampungan yang menjadi terminal bagi setiap rekan seprofesi. Sosok Lelaki berjenggot tebal itu bernama Suparman, ia rela membuka mata pada saat orang- orang masih terlelap dalam mimpi. Demi menghidupi keluarga di rumah sebanyak  4 orang buah hati juga 1 orang bidadari hidup.
Saat sebagian orang masih tetidur lelap Suparman membuka mata lebih awal dari pada saat orang- orang terlelap tidur agar menunaikan ibadah sholat sunat tahajud serta berdo’a pada sang maha pencipta agar rejeki dapat dimudahkan dan  diberi barakah meskipun profesi yang digeluti sangat berbeda dengan orang lain. Suparman tak berpikir panjang atas profesi itu, karena tak punya pilihan lain.
Adzan subuh berkumandang itulah awal bagi suparman untuk mengais rejeki, demi sang buah hati suparman yang sudah bersekolah semua. Ada yang duduk di kelas 1 sekolah dasar, ada yang duduk di sekolah menengah pertama , ada juga  duduk di  bangku sekolah menengah pertama sampai perguruan tinggipun ada. Buah hati  lelaki berjenggot itu semuanya laki- laki. Mereka sudah bisa membantu meringankan beban ke 2 orang tuanya. Meskipun demikian Suparman enggan melepas profesi yang seharusnya   sudah di tinggalkan itu, melihat umur yang sudah tidak karuan.
Karung, celana dan baju compang camping menjadi seragam baginya, setiap melankangkahkan kaki untuk mengais rejeki tak ketinggalan pakaian koko yang setia menemani. Ucapan bismillah ia lantunkan saat akan berangkat dan pamitan pada bidadari hidup yang selalu setia meskipun pekerjaan suaminya dikatakan jauh dari kelayakan. Dia bernama Putri, seorang wanita cantik, terpikat kada lelaki berjenggot karena kebaikan dan keikhlasannya.
Menyusuri jalan dengan pandangan mata tertuju ke bawah, satu demi satu kaleng dan bekas air minum  di pungut satu persatu dimasukan kedalam karung. Bermodalkan  sabar dan ikhlas satu demi satu bekas botol minuman itu terkumpul menjadi banyak. Suparman biasa mengumpulkan botol air kemasan itu sampai larut malam. Seperti biasa, istirahat hanya beberapa puluh menit, dalam setiap istirahat hanya pada saat adzan berkumandang saja, suparman tak pernah meninggalkan ibadah yang ditujukan pada sang khalik.
Dalam salah satu waktu suparman sempat bertemu dengan seseorang  lelaki paruh baya memakai seragam putih abu abu  ketika sang mentari bersinar, saat suparman  sudah mengumpulkan  banyak botol bekas dan duduk santai di tepi jalan. Dari kejauhan terlihat lelaki paruh banya itu melihat dengan sinis, kemudian menghampiri suparman,
”Bapaknya Roni?tanya lelaki paruh baya itu sambil terheran kagum,”
“Ia, memangnya kenapa de?”
“Subhanalloh, ternyata yang diceritakn Roni tentang Profesi bapak benar sekali, Roni sering bercerita di depan kelas tentang kegigihan dan kesabaran bapak dalam menghidupi keluarga.”
“Apa benar yang dikatakan ade ini? Sambil menitihkan air mata terharu.”
“Iya benar pa, bakhan Roni adalah satu- satunya siswa terbaik di sekolah. Meskipun keadaan bapak seperti ini tapi Roni tidak pernah mengeluh saat belajar di sekolah.”
“Allahuakbar, suparman menangis haru di depan lelaki paruh baya itu.”
“Maaf pa, saya harus berangkat sekolah , karena  takut kesiangan.”
“Makashi ya de, kabar yang engkau bawa, menjadi pecut bagi bapa.”
Terik matahari begitu cepat keluar setelah suparman mendengar kabar gembira bagai bumi mendapatkan sinar matahari, tersayup sayup hatinya.
Tumpukan botol sampah yang telah tekumpul di gendol diatas punggung untuk di setor ke bank sampah. Sengatan terik matahari yang  begitu menyengat tak dihiraukan, rasa senang dan bangga pasa sang buah hati menjadi tameng teriknya sinar matahari.
“Kang niih botol aku sudah terkumpul untuk jatah pagi hari, pada sang kasir bank sampah,” terlihat lesu namun berdecak bahagia.
“ wiiih pak, dapet banyak niiih dari tdi pagi”,
“Iya Alhamdulillah, tdi pagi aku dapat cambuk yang begitu luar biasa pada hati dan pikiran saya,” tutur suparman.
“Ini pa bayaran untuk kali ini, semoga bisa bermamfaat dan barokah.”
“Amiiin.”
Siang hari itu suparman senang dengan penghasilan yang dinilai cukup untuk satu hari. Adzan dzuhur telah berkumandang dan berniat untuk ,melepas lelah dengan sembahyang dzuhur . karena rumah sederhananya jauh sekali dengan bank sampah tempat penyetoran botol bekas itu. Kira kira suparman berjalan sekitar 15 km perharinya.
Di teras masjid yang telah di singgahi, merentangkan badan yang seharian berjalan kaki. Tulang tulang punggung yang kaku, bersuara keras.
Indahnya hidup bila di jalani denga ikhlas dan mempunyai kabar gembira yang sangat dasyat dirasakan. Mata terpejam, pikiran dikit sedikit melayang ke awing awing pelampiasan rasa lelah yang dijalani suparman.
”Ya allah nikmatmu tiada dua dengan kabar gembira yang kau berikan padaku saat ini, harta berlimpah aku takan menjamin kenikmatan s eperti ini,” tutur suparman.
Namun ia tak sempat lama dalam waktu peristirahatan, suparman dengan segera membangunkan badan serta menghentakan langkah kaki untuk membersihkan kotoran di tubuh  untuk menghadap sang maha penciptanya. Kulit yang agak keriput dan dekil  Nampak cerah dan bersih setelah berwudhu. Ia bergegas mengganti pakaian compang camping yang dipakai dengan pakaian muslim koko. Nampak seperti hilang seorang pemulung botol bekas minuman.di setiap gerakan gerakan sholat yang dijalani sangat khusu dan bermakna sekali. Tak lupa juga sering berdzikir pada sang maha pencipta setelah selesai menunaikan ibadah.
Dirumah terdapat beberapa anak suparman yang sudah pulang sekolah. Anak yang duduk di bangku sekolah dasar bernama iman, sedangkan anaka yang duduk di sekolah menengah pertama bernama taqwa, roni adalah anak yang duduk di kelas 2 Sekolah menengah Atas dan solihin adalah anak terakhir dari suparman yang duduk di perguruan tinggi yang berfokus di studi menejemen industri.
Ke empat anak suparman ini mempunyai prestasi gemilang di setiap sekolah. Meskipun hanya di berikan makanan ala kadar tapi tak mempengaruhi niat dan motivasi belajar ke 4 orang anaknya. Solihin mahaiswa perguruan tinggi semester 6 yang tak meminta biaya sekolah pada kedua orang tua karena mendapat beasiswa supersmart dari kampus tempat ia belajar.
Lain halnya dengan Roni siswa sekolah menengah atas yang mengambil jurusan Ipa , di sekolah roni adalah satu- satunya siswa yang aktif dan mendapatkan berbagai penghargaan kejuaran lomba matematika baik tingkat nasional maupun internasioanal.
Taqwa juga tak ketinggalan dalam hal prestasi, ia siswa sekolah menengah pertama yang mempunyai potensi yang luar biasa. Taqwa adalah salah satu atlet pemain sepakbola tingkat daerah yang meraih berbagai prestasi. Taqwa juga mendapatkan beasiswa dari sekolah juga, bahkan dari club olahraga yang ia ikuti.
Dan yang terakhir si bungsu dari suparman yaitu Iman, masih duduk di kelas 4 Sekolah dasar. Si bungsu juga mempunyai prestasi yang membanggakan sekali. Iman adalah hafidz Al-qur’an yang sering mendapatkan kejuaraan di tingkat nasional.
Tengah hari saat trik matahari menyengat, ke empat orang anak ini sudah pulang lebih awal. Mereka selalu bercanda tawa dan saling bertukar pikiran.
“Kak soleh,” panggil adik-adik solihin.
“Apa de, ko kalian sudah pulang,?” Jawab solihin sambil melepar senyum.
“Ia nih ka, aku lagi ga enak badan.” Jawab si bungsu.
“Kalau Taqwa kenapa sudah pulang, biasanya pukul 3 sore baru pulang?”
“Emmkh gurunya lagi rapat kak,”
“Kalau Roni, apa tidak ada studi tambahan?”
“Kebetulan tidak kak, jadwalnya dipindah ke hari esok.” Sambil tersenyum .
“Alhamdulillah kalau begitu, kita bisa berkumpul kembali.”
“Iman, kamu istirahat saja dikamar agar nanti malam  dapat pergi ke pengajian.”
“Ia ka soleh,”
Datang ibu Putri, yang baru bekerja di salah satu rumah tetangga.
“Assalamualaikum”
“Waalaikum salam jawab serentak anak- anaknya”
“Eehhh nak, kalian sudah pulang. Maaf ya nak,  belum ada makanan karena ibu belum masak, kalian sudah lapar?”
“Alhamdulillah belum bu, soleh sudah makan tadi pas pulang ngampus,”
“Roni juga bu, tadi di traktir teman makan bakso,”
“Taqwa juga bu sudah.”
“Kalau Iman kemana? Belum pulang,” Tanya ibu Putri dengan mimic muka  gelisah.
“Iman lagi ga enak badan bu, tadi iman pulang lebih awal. Sekarang ia lagi merentangkan badan dan melelapkan rasa sakit di kamar.”
“Innanillahi, iman sakit.” Ibu Putri bergegas melangkahkan kaki ke kamar iman yang berada di lantai atas. Hentakan kaki ibu putri terasa lebih cepat dengan cemas dan gelisah.
Sampai di kamar iman ibunya lagsung melihat kondisi sang hafidz itu.
“Nak, kamu tidak apa- apa?” Sabil raut dan mimic muka yang gelisah.
“Ibu?, “iman menjawab dalam keadaan setengah sadar.
“Ia ini ibu nak,” sambil menempelkan tangan sang ibu di jidat sang buah hati.
“Ibu, maaf iman lagi ga enak badan , jadi pulang lebih awal dari sekolah,kata guru biar tidak terjadi apa- apa.”
“Iya ga papa nak kamu sudah melakukan hal benar, kalo lagi sakit itu jangan memaksakan sekolah. Nanti jadi lebih tak bisa tertolong.”
“Iya bu,” sambil memeluk ibunya,
I”bu akan mempersiapkan untuk makan malam, setelah bapak datang kita makan bersama. Iman kamu istirahat lagi aja.”
“Iya bu,” sambil merentangkan sekujur tubuhnya kekasur.
Ibu putri sangat merasa lega karena si bungsu tidak terlalu parah, hanya demam biasa dan bergegas ke dapur karena waktu sudah melaju ke sore. Di dapur terlihat bahan makanan yang kosong, garam, pecin, sayur- sayuraran, bahkan beraspun hanya beberapa ons seharusnya 1 kg, ibu 4 anak ini lantas bergegas pergi ke pasar,jarak yang lumayan jauh membuat ibu putrid ini extra cepat.
Dalam perjalanan menuju pasar, ibu putri bertemu dengan pengemis yang sangat kelaparan, maka berhenti sejenak dan merenung terlebih dahulu. Hatinya tersentuh, karena meskipun suaminya bekerja sebagai pemulung tapi barakah tiada tara.
”Bu tolong bu makannya,”
“Buat makan bu, sudah 1 minggu belum makan.”
Akhirnya Ibu putri menyisihkan uang belanja ke pengemis jalanan itu, dengan perasaan iba.
“Makasih bu, semoga di berikan pengganti uang dengan berlipat ganda.”
“Amin.”
Setelah memberikan uang pada pengemis itu, ibu Putri bergegas lagi berangkat ke pasar untuk membeli bahan-bahan masak.
Setengah jam ibu putri berjalan dari rumah, sampailah di pasar. Yang pertama ibu putri mencari beras terlebih dahulu, karena beras makanan pokok utama dan dirumah sudah habis.
“Mau beli apa bu putri, tumben sore hari ke pasar,biasanyakan pagi pagi,” Tanya pelayan took sambil melempar senyum.
“Ia niihh pa, kebetulan persedian bahan dapur di rumah sudah habis.”
“Mau beli apa aja niih bu, ?”
“Emkh, 10kg beras, 1 pack garam, 1 bungkus pecin, 3 bungkus kaldu, wortel 1 kilo, brukol 1 kilo, paprika ½ kg,”
“Ada lagi bu putri?”
“Ooh ia telur 1 kg, tempe 3 bungkus, dan tahu 40 biji.”
“Tunggu sebentar ya bu.”
“Ia kang.” Sambil tersenyum
Sambil menunggu pesanan, ibu putri bertemu dengan salah seorang sahabat lama.
“Putri?” Tanya teman lama,
“Kamu risma?”
“Iya ini aku risma, kamu pangling banget put. Sekarang tinggal dimana?” Berdecak kagum diraut muka.
“Kamu juga pangling loh ris,aku sekarang tinggal di desa kuta ,kamu sekarang tinggal dimana. ?”
“Aku sekarang tinggal di desa bewasari put, suami kamu sekarang kerja apa? Apa kamu juga bekerja.?”
“Lumayan jauh looh dari pasar ini. Suami aku ? kebingungan untuk menjawab.”
“Suami aku kerja di perusahaan sinar mas tbk. Aku mau kerja , tapi dilarang- larang gitu.” Sambil ketawa ketawa.
”Suamiku seorang profesi yang mulia dan halal. Aku juga seperti itu. Dalam hatinya( suami aku bekerja sebagai pemulung dan aku bekerja jadi pembantu rumah tangga).”
“Ooh ia aku duluan ya, suami aku soalnya sudah menunggu di parkiran put.”
“Iya is, kapan- kapan lagi kita ngobrol jauhnya.”
Risma meninggalkan Putri dengan melenggak lenggok bagai pragwati dengan tampilan sexynya.
“Mba Putri ini pesanannya sudah.”
“Ooh ia mas, semuanya jadi berapa?”
“400 ribu mba, bisa tolong di angkut ke parkiran ga mas. Aku mau naik becak aja soalnya.”
“Ia boleh mba,”
Ibu putri bergegas menuju keparkiran untuk mencari tukang becak, karena waktu sudah lewat ba’da ashar.
“Mang mang mang, bisa tolong anterkan aku ke desa Kuta ga mang?”
“Ia siap neng, jawab lelaki yang aga tua itu.”
“Tapi tunggu dulu pesanan aku yang belum datang ya mang.”
“Tak lama kemudian barang pesanannya datang.”
“Ini mba barang pesanannya, mau taruh dimana?” Sambil kelelahan.
“Di tukang becak itu mas, sebentar aku panggilin dulu.”
“Mang becak, sini! Ini sudah ada barangnya.”
“Yang itu mba,?”
“Iya mas, “sambil melempar sennyum.
“Ohh ia dan ini uang tips buat ngangkut barang,”
“Makasih ya mba,”
Ibu putri pun naik ke becak dan merilekskan tubuh biar nyaman dalam perjalanan,
“Mang agak cepat ya, soalnya sudah agak sore.”
“Oke neng.”
Saat ibu putri menuju kerumah, solihin, taqwa dan Roni membersihkan dan merapikan rumah. Karena mereka sangat giat sekali dalam bekerja membantu orang tua.
“Ron, kamu bersihkan lantai 2,” seru  soleh,
“Oke ka,”
“Taqwa kamu bersihkan ruang tamu dan dapur,”
“Siap ka.”
“Dan kaka membersihkan halaman, karena halaman rumah sudah kotor sekali.”
“Dan kalian harus rapih pekerjaanya sebelum pulang. Tapi sebelum bekerja kita solat ashar berjamaah terlebih dahulu agar tenang.”
“Oke ka,” jawab serempak roni dan taqwa dengan rasa semangat.
Suparman setelah bersitirahat bergegas memngumpulkan kembali botol- botol bekas,dari satu tempat ketempat lain. Ketika waktu sholat ashar tiba ,Suparman tak bosanya ketika adzan ashar berkumandang selalu bergegas ke mesjid untuk beristirahat dan menunaikan ibadah pada sang maha penciptanya.
Ketika sholat ashar selesai ada kakek-kakek tua yang takjub saat melihat Suparman seorang pemulung namun giat terhadap ibadah.
“Nak, kenapa kamu memilih pekerjaan pemulung, padahal banyak sekali pekerjaan yang lain.”
“Tentang itu ya kek, aku senang menjadi pemulung, yang pertama karena seorang pemulung membantu lingkungan, karena jaman sekarang manusia banyak yang sudah tidak sadar terhadap lingkungan. yang ke dua menjadi pemulung tidak ada dalam tekanan orang lain dan tidak merugikan orang lain.”
“Apalagi ada nilai plus dapat tepat waktu dalam beribadah pada sang maha pencipta.”
“Subhanallah betapa mulia sekali dirimu nak,”
“Kalau begitu kamu pantas mendapatkan warisan dari kakek, kakek tidak mempunyai keturunan nak. Sedangkan istri kakek sudah tiada.”
“Ahhh kakek bercanda saja,” sambil ketawa tidak percaya.
“Yuu ikut kakek kerumah nak.” Menjawab dengan agak serius.
“Hahhh?” Merasa kaget dan expresi tak percaya.
“ Iya ya  kek,” bergegas mengikuti kakek tak dikenal itu. Dan meninggalka karung berisi botol bekas.
“Kakek warga asli sini, ?”
“Iya, kalau kamu nak?”
“Aku warga desa kuta, sebrang desa sini.”
“Waah jauh sekali nak , kamu memang orang pilihan.”
“Hhhaaaahh?” Mendengar jawaban kakek itu, suparman merasa lebih aneh.
“Kakek siapa namanya?”
“Nama kakek salman. Naaahhh itu rumah kakek, ayoo sebentar lagi kita sampai.”
“Hhhahhh?” Makin lama suparman semakin merasa aneh dan lebih bengong dengan kakek salman ini.
Saat memasuki halaman rumah kakek salman, Suparman semakin terposana dengan apa yang dilihatnya.
Teras yang mewah, serta pondasi rumah yang kokoh.
“Kakek?” Emmmkh sambil kebingungan, Kakek tinggal sendirian di rumah ini.
“Engga nak, kakek tinggal berdua dirumah ini.”
“Siapa lagi kek? Ko sepi sepi begini rumahnya.”
“2 orang lagi pembantu kakek, yang pertama tukang kebun. Dan yang kedua si embo, kerja si embo beres beres rumah dan menyediakan makanan kakek”,
“Subhanallah, ternyata jadi orang kaya itu senang sekali ya kek”,  sambil termesem mesem
“Tidak juga nak, ketika seseorang di kasih kepercayaan Allah baik berupa harta, tenaga dan tahta. Bahkan ada orang yang jadi gila karena harta.”
“Bener juga ya kek, tapi kalau jadi orang miskin sangatlah sengsara.” Suparman mulai agak egois dan lupa pada kenikmatan yang Allah berikan.
Sambil mengalihkan jawaban suparman, kakek salman mengajak suparman melihat- melihat isi rumah.
Semakin dalam semakin takjub suparman pada rumah kakek salman.
“Ayoo kesini dulu nak, naaaah ini ruang makan. Pasti nak suparman belum makan ya. Untung si embo telah menyiapkan  makan sorenya. Ayoo makan!!,”
Perut suparman sepertinya mendukung dengan kondisi dan situasi. Saat kering turunlah hujan.
Ketika di buka tudung saji makanan,  subhanallohh, suparman langsung sook, karena kaget melihat makanan  begitu kumplit menu hidangan dibalik tudung saji. Dari daging sapi, daging ayam, lauk pauk ,telor, sampai ke petai dan  jengkol pun ada, bahkan masih banyak menu yang lainnya.
“Kakek suka makan sendirian?”
“Iya nak, kalau lagi bosen , kakek tidak makan dirumah, biasanya ke rumah makan di kota”.
“Subhanalloh ketika masih banyak orang yang kelaparan, ternyata ada segelintir orang yang menyisakan bahkan berhura- hura pada makanan yang sudah ada.”
“Bismillahirrahmanirrahim, kek boleh di mulai makannya.”
“Ia silakan,”
Meskipun suparman berusia 35 tahun beranak 4 anak, dengan tampilan pakaian compang camping, namun hati dan pikirannya masih berjiwa muda.
Mulailah suparman mengambil nasi serta lauk pauknya dengan perasaan malu- malu.
Mereka berdua melahap makanan tanpa ada perbincangan sama sekali.
Supaman ingin memulai perbincangan namun agak malu karena kakek salman sedang santai memakan makanannya.
Hingga akhir makan sore mereka berdua tanpa ada percakapan sama sekali.
“Alhamdulillah kek, saya sudah kenyang makannya. Terimakasih banyak ya atas makanan yang diberikan kek, semoga Allah membalas atas apa yang telah kakek berikan hari ini.”
“Iya nak, sama- sama. Ngomong- ngomong nak suparman sudah berkeluarga?”
“Alhamdulillah kek, saya sudah berkeluarga dan dikarunia oleh Allah 4 orang anak.”
“Kalau begitu ini makannya sisanya bawa saja ke rumah nak suparman, karena disini juga mubadzir,”
“Yang bener kek?” Sontak terkejut.
“Iya nak, silahkan bawa semua sisa tadi makan.”
“Waaah kek, masih banyak. Terimakasih banyak ya, Alhamdulillah ya Allah.”
Setelah makanan yang diberikan sudah di kemas dalam kresek, suparman pamitan dengan salaman ke kakek salman.
“Kapan kapan kesini lagi ya dan kalau bisa bawa istri dan anak kamu,”
“Insya allah kek, kalau ada umur dan waktu.”
Suparman beranjak dari rumah kakek salman dengan perasaan senang sekali dan bahagia. Baru pertama kalinya ada orang yang mau memberikan makanan enak kualitas supemewah padanya.
Setelah sampai dirumah ibu putri melihat rumah dan halamannya telah rapih dan bersih.
“Subhanalloh rumahku surgaku,” ketika ibu putri cape karena perjalanan yang melelahkan dari pasar , disuguhi  kerapian dan kebersihan rumah .
“Soleh , soleh,” teriak Ibu putri yang baru turun dari becak.
“Iya bu,” jawab soleh masih dalam rumah.
“Tolong ibu nak, bantu bawa barang belanjaan.”
“Ini mang ongkosnya, makasih ya.”
“Ia bu, makasih ya.”
“Tidak mampir dulu?.”
“Kapan kapan saja lagi”, jawab mang becak.
“Ini bu, barang belanjaan yang ibu bawa.”
“Ia nak,”sambil tersenyum. 
Ketika solihin mengangkat barang belanjaan ibu Putri, taqwa dan roni sudah bersiap- siap membantu ibu Putri di dapur.
“Assalamualaikum,” ibu putri mengucapkan salam ketika masuk keruang dapur.
“Waalaikumsalam,” jawab kedua anaknya.
“Tolong ibu masak ya, ibu soalnya belum solat ashar.”
“Iya bu, sekarang mau masak apa?” Dengan penuh semangat roni dan taqwa.
“Malam ini kita hanya makan dengan sop sayur saja.”
“Alhamdulillah, makasih ya bu.”
Setelah ibu putri kluar dari ruangan dapur bersama solihin, kini giliran taqwa dan roni yang mengerjakan tugas selanjutnya, karena mereka berdua sudah agak mahir dalam memasak.
Pertama- tama roni mengupas  terlebih dahulu wortel dan brukol untuk membuat  sup sayuran.
Sedangkan taqwa memanaskan kompor dan air panasnya untuk menanak nasi.
Mereka berdua bekerja layaknya sebagai koki, 
Ketika ibu Putri selesai solat ashar, panjatan doa dan curahan hati selalu disampaikan pada Sang maha pencipta.
“Alhamdulillah Ya Allah engkau telah mengkaruniai keluarga kecil ini dengan kebarokahan dan keharmonisan. Langgengkanlah suasana seperti ini Ya Allah.” Sambil meneteskan air mata haru.
Didapur Roni dan Taqwa hampir selesai mengerjakan masakan yang dari tadi di garap kini hanya tinggal menunggu matang.
Ibu putri setelah merapikan Tempat solat bergegas ke kamar Iman, karena khawatir demam Iman semakin tinggi.
“Assalamualaikum,” ketika hendak membuka pintu kamar Iman.
Ternyata iman tertidur nyenyak sekali
Ibu Putri memegang jidat Iman untuk memastikan suhu tubuhnya, “Alhadulillah ternyata suhu badan Iman sekarang normal.”
Meskipun Iman tidak bangun dan sengaja tidak dibangunkan karena sedang istirahat. Ibu putri pelan- pelan keluar dari  kamar dan menuju ke dapur untuk melihat pekerjaan memasak kedua anaknya.
“Roni , taqwa gimana masakan sup sayur serta nasi, apakah sudah selesai?”
“Alhamdulillah sudah hampir matang bu,”
“Alhamdulillah kalo gitu, ibu istirahat dulu ya di kamar. Badan ibu agak pegel pegel.”
“Iya bu,” jawab mereka berdua dengan serempak.
“Kalo kak soleh dimana?” Tanya ibu dengan sedikit lesu. “Ibu mau minta di pijit badan ibu agak kurang enak badan.”
“Kak soleh ada dikamar lagi ngerjain tugas,”
Ibu Putri pergi kekamar soleh untuk minta di pijit,
“Assalamualaikum,” sambil mengetuk pintu.
“Waalaikumsalam bu,” dari meja belajar yang sedang di tongkrongi soleh beranjak untuk membuka pintu.
Kreket, suara pintu yang dibuka oleh soleh.
“Soleh sibuk tidak? Ibu mau minta tolong sama kamu. Tolong pijitin ibu, badan ibu aga sakit dan pegal- pegal.”
“Engga terlalu ko bu,”
“Ya udah ibu tunggu di kamar ya.” Sambil menutup pintu kamar saleh.
“Iya bu,”
Tak terlalu lama, soleh hanya menutup laptop dan membereskan buku mata kuliahnya, dan langsung bergegas menuju kamar ibunya.
“Assalamualaikum, ibu ini soleh.” 
“Waalaikumsalam , iya silahkan masuk.”
“Tolong pijitin bagian punggung dan pundak nak, tadi pagi di rumah ibu majikannya banyak sekali cucian jadi focus nyuci sampai- sampai punggung dan tulang belikat pegal- pegal.”
Soleh mulai memijat Ibunya, kebetulan Solihin sangat mahir dalam pemijatan. Uang jajan serta peralatan ngampusnya dihasilkan dari memijat.
“Eeuuu, euuu,” sendawa yang dikeluarkan ibu Putri saat di pijat.
Setengah jam kemudian selesai sudah Ibu Putri di pijat dan soleh pamitan ke kamar untuk menyelesaikan tugas kampusnya.
Hari semakin sore.
Suparman tinggal beberapa km lagi untuk sampai kerumah. Adzan magrib berkumandang dan Nampak di 100 meter dari jalan yang sedang di tempuh terlihat masjid. Suparman hendak beristirahat dan melaksakan sembahyang magrib di masjid itu.
Sambil merenungi kejadian tadi sore, suparman tak seperti nyata kejadian tadi bagai mimpi tak berujung, karena baru pertama kali dalam sejarah hidup ada orang yang mau mengajak saya  masuk kerumah orang lain. Padahal saya hanyalah seorang pemulung yang kucel dan hanya memakai pakaian compang camping.
“Subhanalloh kuasa Allah begitu besar rakyat jelata tak bisa di anggap remeh, ketika Allah menghendaki apa saja bisa terjadi.”
 Renungan suparman saat akan menggati baju untuk sembahyang sholat magrib.
Shalat magrib berjamaah dan berdzikir pun selesai
 “Eeeh man, baru sampai sini,”Tanya ketua dkm masjid baiturahman.
“Ia nihh pa sohib, sehat?” Sambil tersenyum semu
“Alhamdulillah man, kamu kaya sehat juga.” Sambil cengengesan.
“Alhamdulillah pa,”
“Bagaimana hari ini dapat banyak?”
“Alhamdulillah pa, kebetulan kelakuan masyarakat jaman sekarang tidak sadar diri,padahal sudah banyak plang buanglah sampah pada tempatnya, namun tetap saja ada orang yang buang sembarangan.apalagi kaleng dan aqua botol minuman. Dibuang dimana saja. Alhamdulillah juga  tapi buat saya rizki  pa sohib.” Hehehe sambil cengengesan juga.
“Memang warga Indonesia belum sadar akan kebersihan lingkungan man, padahal banyak cerminan- cerminan bahwa sampah itu sangat berhaya sekali.”
“Ia juga pa Sohib, waduuh waktu udah semakin malam aja niih pa, istri dan anaku sedang menunggu.”
“Aku pamit pulang dulu pa sohib, nanti di sambung lagi.
“Asssalamualaikum,” suparman mengucapkan salam saat akan pulang dan menggendol  karung yang isinya  botol bekas,
“Waalaikumsalam, hati – hati.”
Perjalanan pulang kerumah sudah semakin dekat, suparman sudah tak sabar ingin berbagi cerita kejadian tadi siang dan makanan yang dibawa dari  tempat kakek itu ingin segera di berikan pada keluarga dirumah.
Sepanjang jalan dari masjid baiturahman sampai kerumah terus memikirkan kakek itu siapa dan entah apa yang ingin diperbuat pada diriku dan keluargaku. Yang pasti saya sangat bersyukur pada Allah karena telah di pertemukan dengan kakek itu.
Perjalanan jauh dan melelahkan seorang pemulung mendapatkan kepuasan batin tersendiri. Di depan bola matanya terlihat istana yang sederhana. Suara anak-anak dan istri suparman sangat ceria dalam senda gurau.
“Assalamualaikum…..”suparman mengucapkan sambil terengah engah dalam kegelapan malam.
“Waalaikumsalam….”terngiang gendang telinga suparman.
“Ayaaahh, !!!” smua anak suparman keluar dari rumah dan menyambut  kedatangan bekerja.
Ciuman tangan anak-anak menjadi karakter bawaan ketika saat masih kecil, tak ketinggalan juga bidadari hidup suparman yang selalu mengayomi disaat susah, senang, mnderita dan meratapi nasib.
Duduk dan melamun sejenak suparman di ruang makan, rasa lelah terbayarkan saat memberikan makanan pada keluarga kecil dirumah,
“Alhamdulillah bapak hari ini dapet rejeki tak terduga,”
“Reejeki apa pa?,” solihin anak cikal bertanya sambil terlihat sudah aga mau ngantuk,
“Anak- anak, begini. Bapak bertemu dengan seorang kakek- kakek tua. Ceritanya ketika bapa lagi bersandar sambil istrahat di rumah sang maha pencipta, waktu itu waktu sholat ashar. Bapa tadi lagi istirahat. Subhanallah sekali baru pertama kali bapa di sapa seramah itu.”
“Bapak, siapakah gerangan kakek- kakek yang mau menyapa bapak dengan seramah itu?.” Iman bertanya dengan lantang.
“Namanya kakek salman, nak. Beliau mengajak kakek untuk singgah di rumah yang tak jauh dari masjid itu. Ketika berjalan dengan kakek salman, kita berdua saling bertukar pertanyaan mengenai lika- liku kehidupan. Dari kejauhan terlihat rumah yang sangat besar sekali dan megah.”
“Ternyata rumah megah itu milik kakek salman, bapak di ajak melihat lihat setiap sudut ruangan. Nampak jelas sekali setiap ubin, dinding dan langit- langit rumah kakek salman di penuhi dengan kemewahan tiada tara. Namun ada kejanggalan dalam rumah itu, tak ada suara selain mulut kita berdua. Ternyata ketika bapak bertanya pada kakek salman,    hanya satu orang saja yang tinggal dirumah sana, ditambah dua orang pembantu di rumah itu.”
“Wwaaaahhhh…… enak banget kakek itu, berlimpah harta.” ujar Taqwa.
“Harta memang banyak nak, namun tak menjamin rasa kebahagian dan kesenangan duniawi, buktinya kakek salman agak kesepian dirumah itu.”
“Ahhh masa siih pak,?” dengan ragu sibungsu bertanya.
“Iya nak, malah bapak dan sekeluarga disuruh tinggal dirumah sana, untuk menemani hari hari kakek salman yang sunyi.”
“Yang bener pak,?” ibu putri agak tidak percaya dengan yang diucapkan Suparman tadi.
“Beneran bu, dan insya allah kita kapan- kapan mengunjungi kakek salman. Kebetulan kakek salman juga  mengajak makan bapak di istana sepi. Menu makanan di dalam rumah sana membuat ayah sook, karena berbeda sekali dengan kita, hanya itu- itu saja menu makanan yang dihidangkan. Mulai dari daging daging, sayur, lalab dan masih banyak lagi. Bapak juga membawa sisa makan yang tak tersentuh sama sekali oleh tangan bapak.”
“Bapak cepet mandi, air hangat sudah disiapkan. Kita makan bersama setelah bapak mandi.” Suruh ibu Putri yang bahagia.
“Iya bu, itu makanan dari Kakek Salman ada di Kresek itu, coba ibu buka.”
Ketika di buka oleh Ibu Putri, menu makanan lezat dan mewah membuat mereka bersyukur pada Allah yang telah menitipkan rejekinya pada Kakek Salman. Sambil menitihkan air mata haru.
Suparman mandi, Ibu putri menyiapkan hidangan makanan, serta solihin, taqwa, Roni dan Iman. Menunggu di meja makan untuk makan malam bersama.
Ketika suparman sudah selesai mandi. Mereka makan bersama dengan sangat harmonis. Tak ada kata- kata tang terucap dari bibir mereka setelah berdoa ketika akan menyantap hidangan.
Ke empat buah hati suparman, menyantap hidangan malam itu begitu berbeda sekali dari  malam biasa.  
Ibu Putri dan Suparman sesekali tersenyum karena merasa bahagia bisa melihat anak- anak makan enak.
“Nak, kita jangan lupa pada sunah rosul kalau makan itu jangan pernah sampai perut benar- benar terisi penuh hanya karena makanan yang enak, bisa saja makanan ini menjadi biang penyakit.” Suparman mengingatkan pada anak- anak..
Mereka berhenti sejenak mendengarkan pesan dari bapak mereka.
“Alhamdulillah,…..”Ucap Suparman selesai makan,disusul dengan yang lainnya.
“Kalau sudah selesai makan , cuci piring kalian masih- masing, nanti sisa piring kotor biar ibu saja yang bereskan.”
“Baik ibu,”
“Terus kalian langsung belajar, jangan lupa sholat Isya.”
Ketika anak- anak sudah mencuci piring dan menuju ke kamar masing- masing, kini giliran Putri dan Suparman berbincang empat mata.
“Bu, sekiranya kakek Salman mengajak kita sekeluarga tinggal dirumah sana. Ibu setuju atau tidak?”
“Kalau ibu siiih, tergantung keputusan bapak, Cuma tidak apa- apa kalau kita tinggal disana?”
“Tadi sore saat bapak berkunjung di rumah sana, kakek salman memberikan kabar gembira bagi bapak, kalau bapak boleh tinggal dirumah itu. Agar kakek salman tak kesepian.”
“Alhamdulillah, nikmat Allah begitu sempurna,” Putri kembali membanjiri pipinya dengan air haru dan bola mata.
“Sudah bu sini,” mereka berdua berpelukan dengan kenikmatan kebahagian.
“Ayo bu, bersihkan piring kotor, sudah malam.”
“Baik pak.”
Putri membersihkan pring yang penuh dengan sisa makan, sedangkan Suparman pergi menuju kamar terlebih dahulu untuk menyongsong semangat kerja hari esok.
Rembulan mengiringi rasa kebahagian Suparman serta keluarga kecil dirumah dan menemani di alam bawah sadar.
Putri baru beres mencuci piring, beristirahat dulu sejenak untuk meregangkan otot yang kaku. Putri teringat terhadap anak- anak dikamar, dari itu putri mengecek setiap kamar anak- anak.
“Soleh,….!!! Apa masih belajar?”
“Iya bu, soleh masih belajar.”
“Jangan terlalu larut belajarnya.”
Berlanjut ke kamar Roni, putrid melenggang berjalan santai.
“Ron, Roni……!!!” Tak ada sautan dari dalam kamar Roni dan hanya terdengar suara keluar masuk angin dari rongga hidup roni,
“mungkin roni sudah, tak ada aktifitas di dalam kamar sana”,
Lanjut lagi kemar Iman,dan di kamar sibungsu hanya membuka pintu saja, tidak di panggil  karena Iman jam segini sudah tidur,
Kemudian ke kamar Taqwa, dan dilihat oleh Putri sudah tertidur lelap juga.
Semua anak sudah di kontrol, kini Putri berjalan ke kamar sang Suami untuk melayani kewajiban seorang istri.
“Tak terasa kini anak kita sudah dewasa ya pak…..”
“Benar bu, perubahan fisik dan mental telah terasa sekarang. Semoga apa yang telah kita perjuangkan selama ini tidak sia- sia untuk mereka dan menjadi anak yang soleh sampai azal menjemput.”
Kecupan bibir basah Suparman mengenai kening halus Putri, meraba- raba sekujur tubuh Putri karena kewajiban seorang suami untuk memuaskan seorang istri.
“ aaahhhh pak, geliiiii…”
Desahan Putri dimalam hari terus berlanjut, semakin lama Suparman semakin ganas dalam menjalankan tugas akhirnya.
Tiga puluh menit berlalu mereka berdua terkulai lemas setelah kewajiban mereka berdua sebagai seorang suami istri.
“ pak, engkau adalah lelaki sejati, kau dapat memuakanku ditengah lelah melanda dirimu”,
“ sudah kewajiban bu, bapak hanya melaksanakan apa yang di perintahkan agama padaku”,
“ terimakasih pak, engkau telah memberikanku kebahagiaan lahir batin”,
Kecupan terakhir Suparman sebelum tidur membuat Putri melayang keangkasa.
“ sudah malam bu, ayo kita istirahat. Besok kita bekerja lagi”.
Bola mata berkedip- kedip kini menutup perlahan, malam dengan rembulan tersenyum menyinari gelapnya hamparan bumi.
pukul 03.00 dinihari. Ayam berkokok lebih awal seperti hari biasa, Suparman terbangun dari tidur kelap dan nyenyak. Merenung dan Berdoa karena masih diberi kesempatan untuk menjalankan kehidupan yang penuh ke kepanaan.
Beranjak dari tempat tidur, suparman menuju ke tempat wudhu. Dingin yang dirasakan suparman tak pernah di hiraukan.
“Ya Allah air dingin ini dalam keadaan suci, akan ku basuhkan ke wajah titipanmu ini. Semoga kotoran yang melekat pada tubuh hina ini sirna.”
Suparman  membasuh kedua telapak tangan tiga kali sambil membaca basmalah.
"Bismilaahir rahmanir rahiim"
Kemudian membersihkan mulut dan lubang hidung, masing-masing sebanyak tiga kali Supaman melakukannya.
Berlanjut membasuh muka sebanyak tiga kali sambil mengucapkan doa niat wudhu.
“Nawaitul wudhuu-a liraf’ll hadatsil ashghari fardhal lilaahi ta’aalaa”/
“Saya niat berwudhu untuk menghilangkan hadats kecil fardu karena Allah semata.”
Tak lupa Suparman membersihkan tangan kanan dan kiri, mulai dari ujung jari hingga pangkal / batas siku, masing-masing sebanyak tiga kali.
Tahap selanjutnya  tang dilakukan Suparman yaitu mengusap kepala mulai dari dahi hingga batas rambut bagian atas sebanyak tiga kali.
Setelah itu  membersihkan kedua telinga mulai bagian daun telinga bawah dan menuju bagian atas, sebanyak tiga kali.
Tahap terakhir  membersihkan kaki kanan dan kiri, mulai dari ujung jari merata hingga mata kaki, masing-masing sebanyak tiga kali.
***
Suparman dengan khusu melakukan tahapan demi tahapan tata cara berwudhu yang dia dapat.
Keluar dari wc Suparman tak pernah lepas dari doa ketika sesudah berwudhu.
“Asyhadu allaa ilaaha illallaah, wahdahu laa syariika lahu, wa asyhadu anna mUhammadan ‘abduhu wa Rasuuluhu. Allahumma j’alnii minat tawwabiina, waj’alnii minal mutathahiriina waj’alnii min ‘ibaadikash shalihiina.”
Artinya:
“Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Allah dan tidak ada yang menyekutukanNya. Aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya. Ya Allah, jadikanlah aku orang yang ahli bertobat, jadikanlah aku orang yang suci, dan jadikanlah aku dari golongan orang-orang yang saleh.”
Begitu indah seorang pemulung yang taat terhadap agama yang diyakini, tak pernah menghiraukan karena pekerjaan yang digeluti saat ini. Suparman meyakini bahwa tuhan tak memandang pekerjaan dan kekayaan seorang hamba- hamba di dunia.  Suparman selalu bersyukur atas nikmat dan rejeki yang telah diberikan tuhan . Tak hanya harta, anak- anak yang soleh menjadi harta yang begitu besar dalam kehidupan di alam dunia ini.
Beranjak dari wc, suparman bersiap- siap untuk menunaikan sholat sunat sepertiga malam, salah satu cara suparman bersyukur pada sang maha pencipta.
Suparman berdiri tegak menghadap kiblat, pandangan ke arah tempat sujud, kemudian lakukan takbiratul ihram.
  Dengan mengangkat kedua tangan sejajar pundak atau telinga, hadapan  ke dua telapak ke arah kiblat, sambil diringi ucapan Allahu akbar.tatapan mata Suparman  tertunduk pada arah tempat sujud,
Gerakan demi gerakan yang di lalukan Suparman sangat khusu sekali,sesekali bola mata Suparman membanjiri pipi.
“ Ya Allah, nikmatmu kini kurasakan begitu besar, tupukan gunung tiada duanya. berikanlah ketabahan dan kekuatan pada diriku yang hina ini, aku takut takabur dan mendustakan apa yang telah engkau berikan pada hambu ini. Anak- anaku kini telah tumbuh dewasa, berikanlah tuntunan jalan lurusmu, agar mereka tak pernah salah dalam mengambil keputusan dalam kehidupan”,rintihan air mata terus mengalir dalam doa yang di panjatkan.
Berdizkir dalam hening malam, serpihan angin menusuk tulang putih suparman.
Teringat pada anak- anak dan istri, suparman bergegas membangunkan mereka karena tak pernah lupa dengan tugas sebagai kepala keluarga. Panutan yang harus di gugu dan ditiru oleh mereka.
“ ibu, cepat bangun. Bentar lagi mau mau solat subuh,”
“Astagpirullah pa, Ibu terlalu pulas tidur,”, maaf pa.
“Iya, tidak apa apa bu. Cepet bangunin anak- anak bu, kita sholat subuh berjamaah.” Senyum yang menyertai ucapan Suparman.
Suparman,  menuju ke ruangan keluarga untuk memberekan tempat  karena akan dipakai sholat subuh berjamaah.
“subhanallah walhamdulillah walaailaahaa illallahualllahu akbar” terus berulang kali  suparman mengucapkan lafad lafad itu,
Ibu dan anak anak suparman satu persatu sholat sunat di tempat yang telah di rapihkan.
Rumah suparman jauh dari siapapun, tetangga dan kerabat berjarak 1 km dari rumah suparman. Apalagi mesjid,  untuk itu suparman beserta kekuarga mengejar waktu untuk sholat berjamaah di rumah saja.
Waktu solat subuh telah masuk,
”Allahu Akbar. Allahu Akbar.”  
“Allahu Akbar. Allahu Akbar .”
“Asyhadu Allaa Ilaaha Illallaah.”
“Asyhadu Allaa Ilaaha Illallaah.”
“Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullah.”
“Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullah.”
“Hayya' Alash Shalaah.”
“Hayya' Alash Shalaah.”
“Hayya' Alal Falaah.”
“Hayya' Alal Falaah.”
“Ash-shalaatu khairum minan-nauum”
“Ash-shalaatu khairum minan-nauum”
“Allaahu Akbar Allahu Akbar.”
“Laa Ilaaha Illallaah.” 
Kumandang adzan Taqwa sungguh sangat merdu sekali, Putri sampai menitihkan air keharuan. Rejeki yang tak disangka-sangka oleh Suparman dan Putri saat pertama mereka menikah,
Keadaan terpuruk serta melarat saat pertama menikah telah dirasakan. Perjuangan serta kegigihan dan kesabaran Suparman dan Putri agar mendapatkan rejeki yang barokah. Terjawab sudah, rejeki yang diinginkan Putri dengan melahirkan empat anak yang soleh dan cerdas. Mereka memulai sholat berjamaah dengan khusu dan khidmat sampai dengan selesai.
Seperti hari- hari biasa, setelah usai sholat subuh berjamaah Suparman bergegas mempersiapkan seragam kerja. Bekal makanan di bungkus Putri untuk mengganjal perut ketika lapar tiba.
Pamitan dan ucapan salam mengawali perjalan Suparman, satu demi satu suparman mengambil botol bekal ke karung di puggung.
” Entah kenapa, orang- orang hidup bergelimang harta namun tak peduli akan lingkungan sendiri,” renungan dalam hati Suparman.
Kegelapan malam semakin hilang d tempa sinar mentari, kicauan burung begitu jelas terdengar di gendang telinga Suparman serta hijau pepohonan menjadi obat penenang bola mata.
 Anak- anak sekolah begitu antusias berjalan menuju ke tempat menimba ilmu. Canda tawa semua anak sekolah dijalanan terdengar Suparman, kadang Suparman merasa iri karena sejak kecil Suparman tak pernah di sekolahkan oleh kedua orang tua. Bersyukur sekali anak- anak sekarang bisa meraskan bahagia dan indahnya menimba ilmu.
Dirumah Ibu Putri beres- beres setelah mempersiapkan sarapan pagi untuk ke empat anaknya, karena mau berangkat menimba ilmu.
“Ayo anak-anak sarapan dulu, ibu sudah masak menu special bagi kalian,”
“wah, enak dong bu,” ucap Iman.
“ sebelum makan, berdoa terlebih dahulu. Kak Soleh yang pimpin doa,”
Mereka makan bersama dengan sopan dan tertib meskipun keluarga pemulung.
Setelah selesai, mereka satu persatu pamitan berangkat dan minta doa pada ibunya agar dimudahkan dalam menimba ilmu.
Putri juga tak lantas berdiam diri saja usai mereka berangkat. Tugas Putri masih numpuk dan bergegas berangkat ke rumah Majikan untuk kerja.
Sedangkan Solihin, Roni, Taqwa serta Iman berjalan bersama karena kebetulan tempat mereka menimba Ilmu tak telalu jauh satu sama lain. Mereka berpisah dan menuju ketempat yang dituju.
Ibu putri yang telah selesai beres beres rumah, tanpa lelah menuju kerumah majikannya. Putri kebetulan bekerja di rumah salah seorang dewan wakil rakyat. Rumah majikan tempat bekerja Putri hanya berjarah  kurang lebih 1 Km.
“Assalamualaikum, …..”sambil memencet bel dekat pintu.
“waalaikumsalam”, Majikan Putri membukakan pintu,
Ibu maaf, saya agak telat soalnya beres- beres dulu dirumah, sambil menundukan kepala.
“gapapa ko bu, oooh iya tolong siapkan makanan, saya bentar lagi mau berangkat ke kantor”,
“Baik pa, ngomong- ngomong kemana istri dan anak bapa?,”
“Mereka kebetulan lagi berkunjung kerumah neneknya.”
“Ooh gitu, kalau gitu permisi kebelakang pa,”
“Iya.”
Putri pergi ke dapur untuk mempersiapkan hidangan sarapan pagi bagi majikan laki- laki. Majikan laki- laki itu bernama Ridwan, beliau adalah salah satu wakil rakyat daerah. Ridwan adalah sosok panutan bagi rakyat kalangan menengah kebawah. Ridwan juga sehari- hari sering berkomunikasi dengan warga untuk membuat aspirasi pada pemerintahan setempat.    
Ridwan mempunyai satu orang Istri dan satu orang anak. Istri ridwan bernama laila juber, beliau merupakan pegawai Negeri di dinas pemerintahan Kabupaten. Ibu Laila juga sangat ramah tamah pada orang- orang sekitar. Laila hanya mempunyai satu orang anak, namanya Irwan. Dia adalah teman dekatnya Iman apalagi satu kelas di sekolahan.
Putri merasa bahagia karena bekerja dirumah orang – orang yang baik dan ramah.selesai membuat hidangan sarapan pagi, Putri naik ke lantai atas untuk menyapu dan ngepel. Tak pantang menyerah dan tak mudah patah semangat untuk banting tulang demi ke empat buah hati mereka berdua.
Sama halnya dengan Suparman, banting tulang demi masa depan ke empat buah hati mereka berdua. Tapi Suparman sadar tanggung jawab serta beban menjadi kepala keluarga sangatlah besar. Sampai siang hari Suparman sudah 2 kali setor ke bank sampah untuk hari ini. Semangat menggebu-gebu kini dirasakan Suparman. Seperti hari- hari biasa setelah adzan berkumandang, Suparman bergegas pergi ke mesjid untuk sholat Dzhuhur.
Tak disangka- sangka, Suparman kembali bertemu dengan kakek salman. Padahal Suparman berniat berkunjung kerumah setelah adzan dzuhur,
“kakek”? , terkejut,
“ Nak Suparman? Subhanalloh, kita pertemukan di mesjid yang sama,”.
”Alhamdulillah kek, tadinya aku berniat ke rumah kakek lagi untuk nengokin kakek,”
“Syukur Alhamdulillah, kamu tidak kapok berkunjung kerumah kakek.”
“Ayo sholat terlebih dahulu kek, nanti waktu sholat akhir.”
“Iya nak,”
Mereka sholat  dzuhur berjamaah dengan khusu dan khidmat sampai dengan selesai. Harapan dan doa mereka dipanjatkan pada sang maha pencipta.

Selesai mengerjakan sembahyang, mereka berdua berbincang- bincang kembali menyambung dari pembicaraan yang dijeda sholat. Terik matahari yang begitu menancap ke kulit, kakek salman kaget dengan terik panas itu karena jarang sekali keluar rumah siang bolong seperti itu.
Duduk berdua didepan rumah sang maha pencipta, rasa panas dan gerah sirna seketika tanpa ada angin kecang. Tapi tiba tiba
“Subhanalloh nak, panas dan gerah itu kini tergantikan, sejuk serta segar menyelimuti tubuh kakek saat ini,”
“Allahuakbar, sama aku juga kek, padahal tadi panas sekali , tapi seketika lenyap di tempa kesejukan rumah Sang maha pencipta.”
“Nak, kita makan siang dulu ke rumah kakek, kebetulan kakek juga belum makan.”
“Apa tidak ngeropotin kakek?”
“Engga ko nak, justru kakek senang sekali bisa di temanin.”
“mari kita berangkat saja kerumah kakek.”
“Mari kek.”
Mereka berdua berangkat ke rumah Kakek Salman, Suparman seperti biasa menggendol karung dengan tumpukan kaleng dan botol bekas. Kondisi seperti itu tak dihiraukan kakek Salman, meskipun tampilan Suparman compang camping juga. Seolah tak pandang bulu.
Ada hal yang aneh ketika Suparman berkunjung kerumah kakek Salman kedua kalinya, Suparman melihat pembantunya tiga orang menyambut kedatangan mereka berdua seolah kedatangan sudah di rencanakan.
“Kek? Kok kita di sambut seperti ini, padahal kemarin tidak seperti ini.”
“Ooh iya, kebetulan kemarin pembantu saya sedang pulang kampung, kakek mendidik mereka bertiga supaya tatakrama serta kesopan diberikan pada tamu.”
“Silahkan masuk nak,!”
“Mang, bi. Segera siapkan hidangan makan siang, namun sebelumnya buatkan kopi terlebih dahulu nanti antarkan ke ruang tamu.”  
“Baik kek,” jawab mereka kompak.
“Sambil menunggu makan siang kita ngopi dulu di ruang tamu”, kakek salman sambil mengarahkan Suparman keruang tamu.
“iya kek,”,
Ketika duduk di ruang tamu , kakek Salman duduk saling berhadapan dengan Suparman dan berbincang- bincang mengenai Kakek Salman waktu dulu.
Kakek Salman bercerita saat masih muda,
“ kakek saat muda pernah mengalami hal- hal pahit seperti kamu saat ini, makanya kakek peduli terhadap orang- orang kalangan bawah.”
“ dulu kakek saat muda lebih dominan poya- poya serta hura- hura harta orang tua. Namun saat  kakek belum sadar bahwa yang dilakukan saat itu tidak benar dan tak menyangka akan menjerumuskan pada kemelaratan.  Mula mula harta ayah dan ibu kakke pada saat itu terus habis , karena saat ayah dan ibu kakek pergi keluar kota, satu persatu barang dirumah kakek jual dan di gadekan. Terus menerus hal seperti itu kakek lakukan karena pada saat muda dulu kesenangan menghambur- hamburkan harta menjadi keasikan tersendiri.
Nongkrong, minum- minuman keras sampai main perempuan menjadi hal biasa bagi kakek saat muda. Ada kesalahan kakek terbesar pada saat itu, pergaulan bebas serta sex bebas. Jujur kakek pernah satu kali main dengan seorang kupu- kupu malam dengan keadaan mabuk. Ayah dan ibu kakek meninggal dunia karena kecelakaan saat pulang dari luar kota.
Kakek saat itu belum sadar juga, karena info yang di dapat simpang siur dari tetangga, sedangakan kakek bagai kunang- kunang malam masih dalam keadaan mabuk saat pulang kerumah.”
Tetangga kakek bilang
“man, ayah dan ibu kamu kecelakaan,” sambil dengan isak tangis.
“ ahahahaha mana mungkin bi, ayah dan ibu aku kan sekarang masih di luar kota,” sambil ketawa karena masih mabuk.
Tiba- tiba datang sosok pria dengan perawakan agak tua   langsung menampar dan memukul, kakek lemas dan agak sadar diri.
Ketika melihat didepan , ternyata orang yang menampar dan memukul adalah paman kakek.
“ kamu, belum waras juga. Masih saja poya- poya serta serta hura- hura, kapan kamu nyadar??” keluar amarah paman pada kakek.
kakek menundukan kepala pada saat itu karena aku tahu aku salah telah bebuat hal yang tidak diinginkan.
“ kamu tahu? Ayah dan ibu kamu kecelakaan saat pulang dari luar kota. Mereka mencoba menghubungi kamu pada saat mereka akan berangkat. Kemudian mereka nelpon pada mamang supaya ngasih tahu pada kamu.”. dengan nada tinggi mamang marah.
kakek sedih dan tak bisa berkata-kata pada saat itu, hp kakek entah kemana sekarang . sudah ditukar dengan arak serta dipakai untuk perjudian. hanya bisa menundukan kepala serta merasa sedih sekali. Karena  baru menyadari bahwa cerita yang di ceritakan bibi  memang benar.
“ ayah dan ibu kamu sekarang lagi diurus oleh uwa kamu di rs Mansur diaderah jawa tengah, sekarang paman dan bibi akan mepersiapkan  segala sesuatu disini. Bersihkan badan kamu serta perasaan dan pikiran kamu”,
” baik paman,”
kakek naik lantai menuju kekamar serta melentangkan seluruh tubuh ke kasur. Merenung dengan kondisi keadaan setengah mabuk,
“ayah dan ibu  telah tiada. Mau jadi apa ?”
Belum pernah aku menyadari kalau hidup seseorang akan berakhir tanpa sepengetahuan manusia.”
Sebelum kecelakaan ayah dan ibu  sangat sering memanjakan kakek,  karena anak tunggal serta pewaris tunggal kekayaan ayah dan ibu.
“Ayah dan ibu  adalah pengusaha manufaktur serta pengusaha bahan tambang batubara dan minyak bumi.”
“Dari kecil kakek sangat jarang di berikan kasih saying dari kedua orang tua. Mereka sibuk mencari uang dan hanya menjejalkan berupa materi saja. Sampai dewasa  masih tetap di manjakan dengan harta kekayaan mereka.”
“Tapi  baru tahu bahwa mereka ingin membahagiakan anaknya dengan harta kekayaan. Mereka berdua tak salah hanya saja mereka berdua kurang memberikan kasih sayang pada anaknya.”
Air hangat sudah di sediakan oleh bibi, kakek kemudian pergi berendam di bootlop sambil menghilangkan efek alcohol.
Orang- orang dilantai bawah sudah pada datang untuk melayat pada ayah dan ibu. Kemudian bibi dan paman terus mengecek perjalanan jenajah almarhum.
“ man,Salman, jenajah ayah dan ibu kamu sebentar lagi datang , cepat mandinya. Kita akan bersiap- siap”, teriak bibi
“ iya bi,” kemudian keluar dari perendaman serta membersihkan dengan air hangat.
Air yang mengalir dari atas merayap ke kepala sertra menjulur ke seluruh tubuh membuat perasaan dan pikiran menjadi tenang.
Aku merenung kembali serta melelehkan air mata, aku sekarang begitu sadar, aku tak pernah mendekatkan diri pada sang maha pencipta,hingga rela menggadaikan keimanan pada perilaku syetan.
Lemah tak berdaya setelah mengingat tuhanku, malu serta selalu mengecewakan kedua orang tua.
 Ingin sekali menceritakan penyesalanku pada ke 2 orang tua kakek. Penyesalan tinggalah penyesalan. Mereka sudah tiada.
Keluar dari kamar mandi, baju serta celana untuk upacara pemakaman sudah disediakan oleh bibi. Turun dari lantai terlihat sudah banyak kelurga serta kerabat berkumpul menunggu kedatangan jenajah almarhum ayah dan ibuku.
Serine kendaraan pengangkut jenajah  dari kejauhan sudah terdengar, detak jantung tak beraturan lagi. Kuhirup udara agar tetap beraturan namun tak bisa. Semakin dekat dan terus mendekat suara serine itu sampai tibalah dihalaman rumah.
Bendungan air mata tak terbendung lagi, banjir menumpahi pipi.
“ ibu, ayah, maafin Salman. Kenapa ayah dan ibu meninggalkan salman duluan, “,,, air mata terus membanjiri pipi.
Sontak bibi dan pamanku memeluk sambil menarik tubuh lesu ini, karena  ingin terus dekat dengan almarhum ayah dan ibu.
Bapa kiyai  yang akan memimpin sholat jenajah juga telah datang .
“ apa sudah siap? Kita mulai saja karena hari sudah sore.” Ujar pa kiyai.
“ silahkan pa,” bibi menjawab dengan wajah sedih.
Mereka meluruskan syaf untuk melakukan sholat jenajah, kakek saat itu berasa di syaf paling depan. Meskipun berusaha membendung air mata, tetap banjir juga.
Musofahah terlebih dahulu setelah selesai menyolatkan jenajah, keluarga serta kerabat ikut mengantarkan jenajah sampai kepemakaman yang tidak jauh dari rumah .
Mereka pulang ke rumah masing- masing karena prosesi pemakaman telah selesai.
Tak lepas dari jasa kedua orang tua , kakek merasa bersalah karena tak pernah menjadi anak yang berbakti pada orangtua, sampai jasa- jasa mereka belum pernah dinikmati.
Dari sanalah aku tobat, agar jasa- jasa mereka bisa dinikmati dari amal baik anaknya.
Bibi dan paman memberikan pilihan  sebelum warisan ke 2 perusahaan itu jatuh ketangan kakek.
Yang pertama kakek di berikan pilihan untuk mengabdi dan mencari ilmu di pesantren sampai kakek pada waktu itu harus 10 tahun menimba illmu.
Dan yang terakhir haruslah menikah dengan salah seorang santriwati yang taat dan patuh terhadap agama.
Pilihan pertama kakek tempuh dengan rasa berbangga hati karena ingin membahagiakan kedua orang tua, ketika hidup kakek tak pernah menunaikan ibadah pada sang maha pencipta serta membahagiakan kedua orang tua sewaktu remaja jarang sekali.
Alhamdulillah Allah masih memberikan kesempatan bagi kakek untuk memberikan doa serta amalan bagi bapa dan ibu kakek yang telah meninggalkan dunia yang penuh dengan cobaan.
Dalam melaksanakan kegiatan pesantren awalnya susah bangun dinihari untuk melaksanakan sholat sunat tahajud, waktu untuk pengajian malah tidur, mematuhi perintah ustadz sangat sulit karena belum terbiasa dengan dinamika kegiatan pesantren.
Terus termotivasi dan terinspirasi pada sosok kanjeng rosul, pintu hati kakek terketuk untuk khusu serta melaksanakan segala sesuatu perintah Allah dan menjauhi segala larangannya.
Terngiang- ngiang dalam hati sanubari kakek, tatkala lantunan serta kumandang tiwaltil Al- Qur’an di lantunkan oleh salah satu santriwati. Kakek ingin tahu sekali siapa gerangan?
Hari demi hari terus ku amati gadis pelantun tilawah Al- Quran, baru setelah satu minggu dalam pengamatan ku beranikan diri untuk memperkenalkan diri padanya ketika keluar dari mesjid setelah pengajian pagi pagi selesai.
“Assalamualaikum ….”
Waalaikumsalam, wr.wb. “
cadar dalam pakaiannya menyulitkan kakek untuk menerka siapa sosok dibalik cadar itu.
“Mohon maaf sepertinya agak lancing buat kamu, tapi saya hanya ingin memperkenalkan diri, nama saya Salman” pipi putih kini menjadi warna kemerah- merahan.
“ tidak apa apa, nama saya muslimah.” Pandangan serta kepala gadis itu menunduk kebawah.
“Alhamdulillah terimakasih nona muslimah, kamu telah bersedia untuk berkenalan dengan laki- laki tak sopan ini.”, sambil garuk garuk kepala.
“ jangan panggill aku nona, panggil saja muslimah tuan,”
“ iya muslimah, kamu juga jangan panggil tuan ya”
“Insya Allah, kalau begitu permisi terlebih dahulu ada hal yang harus di kerjakan. Assalamualaikum.”,
“ waalaikumsalam.”
Begitu terkesan kakek setelah perkenalan itu, entah hikmah atau petunjuk, perkenalan itu membuat hati serta perasaan menggebu- gebu untuk rajin serta khusu dalam melaksanakan kegiatan di pesantren.
Tiap menit, selalu berharap untuk bisa berbicara kembali. Kesempatan demi kesempatan terbuka lebar untuk berbicara namun selalu terbuang sia- sia karena keraguan serta  kebimbangan dalam perasaan ini.
Satu bulan setelah perkenalan pertama tak sengaja bertemu dalam satu pertemuan pengurus (rois pesantren). Masih dalam keadaan bercadar muslimah begitu elegan serta paras yang begitu anggun membuat hati kakek begitu terpikat. Tak ada upaya meskipun jarak begitu dekat, hati serta perasaan tak pernah bisa diajak kompromi.  Penantian selama satu bulan hanya sebatas ingin melanjutkan perkenalan itu  gagal total.
tekanan hati serta perasaan ini agar tak menimbulkan fitnah. Setiap kali bertemu kakek hanya bisa memberikan senyum pada muslimah. tekad serta niat di perkuat agar bisa melebihi ilmu yang dia punya sekarang. Motivasi itu terus ku serukan pada diri sendiri.
6 bulan mengaji di pesantren sana kakek baru tahu bahwa muslimah adalah anak bungsu kiyai  pengasuh pondok pesantren. Pertama  tahu tentang muslimah putri bungsu dari kiyai. Saat  disuruh kiyai mengambil kitab kajian ke rumahnya. Kakek melihat foto keluarga dan memberanikan diri untuk bertanya pada mama muslimah.
Kebetulan mama muslimah 2 minggu terakhir sudah akrab dengan kakek, ketika masuk kedalam rumah sudah tak asing lagi,
‘Mama, itu foto keluarga kapan di pasangnya?”
“itu sudh lama nak. Cuma sudah satu bulan tak dipasang karena tali yang lama sudah rapuh”,
“Ooh gitu, itu muslimah ya?”
“ iya, kamu tahu. ? iya putri bungsu dari 4 bersaudara. Seorang sholehah serta berbakti pada orangtua. Keteguhan serta keteladanan pada agama di tunjukan pada segi berpakaiannya.”.
Sejak saat itulah kakek semakin bersemangat untuk mendekati muslimah. Namun kakek sadar diri kalau mendekati anak sang kiyai, haruslah orang yang mempunyai ilmu tinggi. Dari sanalah belajar , belajar dan terus belajar agama ditigkatkan.
Siang malam terus belajar, 2 tahun proses belajar kakek tempuh satu ranting ilmu setiap hari kukumpulkan kini tersusun bagai pohon bringin rindang. Tetesan ilmu diberikan terus menerus dan kiyai ku serap serta kucerna dan kuamalkan.
Kakek terus berusaha sampai akhirnya 8 tahun di pesantren telah kulalui, ilmu yang selalu ku kaji telah banyak terserap dan tersimpan. Benih- benih keberanian kakek pada saat itu terus terkumpul untuk taaruf pada muslimah anak kiyai.
Pulang sholat magrib berjamaah, Kakek mencoba bertanya pada kiyai mengenai jodoh terbaik , .
Pa kiyai, ada yang mau ditanyakan mengenai,….
Mau menanyakan apa? Aduuh kaya yang serius amat Man, yuu kita ngobrolnya dirumah saja.
“Iya pa kiyai,” perasaan tak menentu keluar karena ingin menanyakan jodoh muslimah gadis bungsunya.
Kita berdua berjalan menuju rumah pa kiyai tak jauh dari mesjid.
“Gimana Man, pertanyaan apa yang membuat kamu seperti kebingungan seperti itu.’
“Emkh gini pa kiyai, umur aku sudah tak muda lagi, keluargaku sebentar lagi kesini untuk menikahkan aku, aku bingung pa kiyai.”
“Ya tinggal nikah Man, gitu aja ko repot.”
“Soalnya aku meyukai putri bungsu pa kiyai, meskipun aku belum pernah ngobrol panjang lebar bersama namun hati dan perasaan ini seperti berbicara satu sama lain.”
Pa kiyai berpikir dan merenung sejenak.
“ memang muslimah juga sudah waktunya untuk di khitbah oleh lelaki. Tapi dia pemalu. Nanti bapa coba menanyakan pada Sholehah. Bsok pagi kamu ksini lagi untuk mendengar jawaban langsung.”
“Iya pa kiyai, makasih atas bantuan yang telah diberikan.”
Pa kiyai seperti merespon positif merelakan kakek menjadi menantunya . Menunggu esok hari bagai menunggu berbulan- bulan.
Memejamkan bola mata dengan tenaga super besar tak pernah ada hasil. Terbaring diatas sejadah membuat hati tenang melenyap dalam keheningan malam. Ku lantunkan doa- doa seraya memanjatkan doa.
Malam terus larut, suara angin malam berhembus mengenai jendela asrama, kret, kret, kret. Menambah ramai suasana hati kalangkabut ini. Terngiang terus permintaan untuk menunggu sampai pagi itu. Kurelakan serta kupasrahkan jawaban dari muslimah.
Sampai ayam berkokok pada waktu biasa, mata ini tak pernah terpejam dalam hanyutan istirahat. Kakek berbegas dalam langkah kaki menuju rumah sang maha pencipta. Air pelepas dosa serta penyegar tubuh dipagi hari mengawali indah gelap sunyi kemudian  mendekatkan serta berserah diri pada sang khalik.
Air mata kakek tak pernah sederas ini membanjiri pipi.
“ Ya allah nikmat-Mu tak pernah aku dustakan, sedetik saja engkau telah memberikanku beribu kenikmatan kurasakan.” Air mata terus berceceran meskipun kakek tahan.
Menunggu adzan subuh berkumandang sebari mendekatkan diri pada sang maha pencipta dengan melantunkan lapadz- lapadz ilahi.
Santri- santri lain berdatangan menandakan semakin dekat adzan subuh berkumandang, hati kakek berdebar terus berdebar tak beraturan. Bergemuruh pikiran tanpa ujung.
Berjubah dan bersorban, pa kiyai datang untuk mengontrol para santri ke dalam mesjid. Sudah penuh dengan kopiah putih.
“ Salman kamu adzan subuh, sudah masuk waktu adzan!!!.” Perintah pa kiyai.
Perasaan berdebar saat itu hilang seketika setelah pa kiyai memerintah kakek untuk adzan. Tak terpikir bahwa pa kiyai memberikan tes dalam bentuk kepatuhan, keikhlasan serta kewajiban.
Kakek tahu, bahwa tes itu di berikan pada saat pa kiyai akan menyampaikan jawaban dari pertanyaan kakek,
“ Man, tahu tidak alasan Bapa tadi menyuruh kamu untuk mengumandangkan adzan,” agak serius.
“ ngga pa kiyai”, ketegangan megnhinggapi kakek pada saat itu.
“ alasan Bapa menyuruh kamu untuk mengumandangkan  adzan bukan semata- mata hanya perintah. Namun berbagai filosopi untuk bahan pertimbangan jawaban Muslimah dari pertanyaan kamu semalam. Kepatuhan pada perintah guru, karena guru itu adalah orang yang wajib digugu dan ditiru dan kamu sudah melakuka itu semua ,” ungkap Pa Kiyai.
Tatapan empat mata pada hari, membuat suasana damai.
“ hehehhe pa kiyai biasa aja, terus mengenai jawaban muslimah gimana pa?”,,
“uluran tangan serta pintu hati Muslimah terbuka selebar- lebarnya bagi kamu nak Salman, tapi ingat. Kesempatan ini tak akan pernah datang untuk ke dua kalinya, jangan sia- siakan”
“Subhanallah walhamdulillah walailahaillallahuallahu akbar, puji syukur padamu. Ini tidak mimpi kan pa kiyai?”
“tidak nak Salman, semoga Muslimah bisa menjadi jodoh serta istri baik- baik bagi nak Salman”
“Insya Allah Pa kiyai”
Jawaban  Pa kiyai perwakilan dari muslimah memberi semangat tersendiri bagi kakek. Tinggal 2 tahun lagi untuk mengkhitbah putri pa kiyai serta memegang kekuasaan penuh atas ke 2 perusahaan wasiat.
Meskipun sudah di jawab serta di berikan isyarat bahwa muslimah mau dan setuju untuk menikah dengan kakek, cadar serta sikap anggun agamis tak memberi kesan responsip perihal kejadian kemarin malam.
Sepucuk surat pertama kakek layangkan ,

Untuk sang melati bermekaran
Wahai aninda, kutitipkan sepucuk surat ini agar engkau tahu isi hatiku, matamu seolah tak pernah ada keangkuhan. Tangkai tangkai bunga bergoyang ketika kau berjalan. Ku ingin menanyakan suatu perihal tentangmu? Jawaban dari bapa kiyai seolah tak yakin dari jawaban aninda sampaikan. Apakah kamu sudah siap menjadi pendamping hidupku dimasa yang akan datang.
tak pernah siap bila berbicara empat mata langsung dengan aninda, kegugupan ini menjadi tameng dalam keraguan.
Surat ini kulayangkan agar tak menjadi fitnah diantara kita berdua, salam kasihsayang dariku.kutunggu setangkai surat darimu.

Surat pertama kakek buat agar kita berdua bisa berkomunikasi langsung tanpa menimbulkan fitnah. Teknologi semakin canggih namun muslimah enggan mengikuti arus moderenisasi. 1 hari, 2 hari kutunggu balasan surat itu namun tak pernah ada jawabannya.
Hati ini terus gelisah jawaban satu katapun tak pernah hinggap dimata ini. Satu mingggu setelah lelah serta putus asa menghinggapi perasaan. Barulah sepucuk surat balasan datang dari salah seorang teman dekatnya.
“ini surat dari Muslimah, perasaan kagum serta haru berdecak pada Muslimah dari seuntai surat yang engkau layangkan padanya”
“ satu minggu kutunggu jawaban itu, apakah ainun tau, kenapa surat ini baru dibalas?”
“ ya Salman, baca saja surat itu. Muslimah hanya memberikan amanah padaku ini saja bukan yang lainnya”.
“ terimakasih telah mengantarkan sepucuk surat ini padaku”
Balasan sepucuk surat itu menghilangkan rasa kesal dan lelah. Surat itu kesimpan terlebih dahulu dalam saku. Suara adzan dzuhur berkumandang, ku menuju masjid terlebih dahulu agar balasan ini memberikan kebahagiaan.
Kuserahkan rasa lelah, malas, pusing kepala serta kebimbangan serta kebingungan pasa sang maha pencipta diatas amparan sejadah.
Kakek berjalan menuju asrama selepas dari mesjid, tak kuasa menahan keingin tahuan isi dari sepucuk surat itu. Kulentangkan tubuh diatas tumpukan kapuk dalam selimut. Kubuka sepucuk surat itu dan kuresapi.
Teruntuk kakanda
Ditempat,

Sekian lama aku menunggu surat dari kakanda baru beberapa hari harapan serta doaku terkabul. Maaf bila setiap hari aku tak tegur sapa dengan kata- kata manis. Hanya dengan pandangan mata saja aku sudah senang dan bahagia.
Jawaban dari pertanyaan kakanda, semua berasal dari kata hati, uluran tanganku serta pintu hati ini terbuka lebar buat kakanda. Ku ikhlas dan berterima kasih karena telah memberikanku kesempatan untuk bersanding dengan kakanda disuatu hari kelak.
Penantian 2 tahun lagi mungkin sangat lama bagiku, waktu tak akan pernah ada yang tahu. Kadang pahit ataupun manis.  Aku rela bila dalam 2 tahun itu kakanda boleh memilih wanita lebih sempurna dibandingkan aku. Kita berdua belum memiliki ikatan apapun.
Kutitipkan rasa sayang ini padamu kakanda. Engkau boleh membuang titipan itu ataupun mengabaikannya, jangan sampai kakanda mengembalikan titipan itu kembali.
Kutunggu balasan dari kakanda Salman.
Sepucuk surat dengan isi memberikan arti segalanya. Bagi kehidupan dan masa depan kakek. Perhiasan dunia tak akan sempurna meskipun bergelimang harta tanpa perempuan didalamnya.
2 tahun lamanya telah kita lewati dengan bertutur dan bercakap dalam setitik tinta dalam lembaran putih.
Keluarga kakek mejemput ke Pondok Pesantren untuk perosesi akad nikah serta penyerahan ke 2 perusahaan milih almarhum bapa dan ibu. Paman serta bibiku sudah mempersipkan untuk pesta pernikahan.
Paman dan bibiku menghadap pa kiyai untuk meminta langsung Muslimah sebagai calon pengantin sekaligus memberikan biaya serta perlengkapan lainya untuk mengadakan resepsi pernikahan di kompleks pondok pesantren.
Kedatangan keluarga besar kakek ke pondok pesantren membrikan simbol bahwa serius memberikan yang terbaik untuk ponakan ( Salman). Meskipun paman dan bibi telah memiliki calon istri, berkat kasih sayang dan kecintaan pada keponakaanya yang tulus, mereka berdua rela untuk membatalkannya.
Resepsi pernikahan kita berdua sangatlah meriah serta tamu undangan yang hadir para ulama serta pengusaha besar. Acara berjalan khidmat tanpa ada gangguan sedikitpun.
Rumah tangga kakek berjalan sesuai dengan keinginan kita berdua. Lama kelamaan kakek terus disibukan berbagai acara serta pertemuan di kantor. Kakek tak menyadari bahwa muslimah sedang mengandung anak pertama.
Kejutan itu diberikan saat kakek pulang kerja, kesal dan cape terbayar sudah ketika muslimah mengatakan bahwa dalam rahim sudah ada sang buah hati.
Kita berdua saling menjaga dan meningatkan satu sama lain. Begitu bahagia hubungan pernikahan yang dijalankan karena Allah. Hari demi hari terus bergantian, keringat berucucuran demi sang buah hati di lakukan. Perusahaan peninggalan ibu dan ayah kakek berkembang pesat.
Waktu persalinan Muslimah di rumah sakit membuat jantung serta dada ini terbakar tak karuan. Teriakan muslimah menandakan perih dan susah tugas seorang ibu.
Seorang anak laki- laki dengan tangisan pertama memberikan ketenangan pada dada ini. Kumandang adzan serta ikomah kakek kumandangkan di telinga kanan dan kiri.,
Namun sangat disayangkan, istri kakek tak sempat lama setelah mengalami pendarahan begitu luar biasa. Perasaan sudah tenang kini mulai bergetar. Jeritan – jeritan muslimah mulai sunyi, kekhawatiran kakek sudah terjadi. Air mata ini membanjiri setiap sudut pipi. Melihat muslimah dalam kamar UGD mulai pucat. Dua jam waktu yang dibutuhkan dokter untuk keluar dari ruangan ugd  memberikan keterangan pada kami.
Wajah serta mimik dari para dokter yang keluar memberikan psimis pada kami semua.
“ maaf pa, kami semua sudah bekerja maximal namun Allah berkehendak lain. Semoga diterima di sisinya.”
Kata- kata itu membuat seluruh keluarga kami menangis tak karuan. Hati ini kembali jatuh meskipun buah hati kami berdua dikaruniai keselamatan. Kakek belajar ikhlas atas kepergian Muslimah. Keluarga Pa kiyai mengurus segala sesuatunya untuk melakukan proses penguburan jenajah Muslimah.
 Anak kami berdua tadinya mau kakek asuh dari kecil, agar bisa terawasi. Hati kecil ini terus mengatakan anak ini akan menjadi anak yang penuh kesabaran dan keceriaan meskipun harta tak pernah menyelimuti dimasa kecil.
 Kakek titipkan saja anak itu pada salah seorang sahabat,agar terasuh serta terpantau. Keluarga kakek menentang pilihan kakek,karena harta tak akan membutakan anak itu.
Kakek becermin pada kehidupan muda, buah jatuh tak akan jauh dari pohonya. Anak satu- satunya tak akan pernah disia- siakan. Biarkan hidup seadanya dengan pendidikan seadanya. Tak perlu sekolah tinggi – tinggi asalkan akhlak dalam diri kita baik.
Anak itu adalah kamu nak Suparman, kakek ini adalah bapak kamu. Bapa telah lama memantau kamu dari kecil sampai sekarang. Hingga kamu menjadi seorang pemulung ini bapa terus dipantau, maafkan bapak nak.
“Bapak tak bermaksud menelantarkanmu seperti ini, buktinya kamu sangat kuat dan tabah dalam menjalankan hari- hari kamu,”.
“ jadi……., kakek adalah bapak aku?”
“ iya nak, bertahun- tahun bapak terus memantaumu, agar tidak terjadi apa- apa,”
“ subhanalloh, ya Allah engkau begitu maha adil. ( mencium tangan Bapaknya)
jadi selama ini bapak terus mengawasi aku?”
“iya nak, “air mata haru membasahi pipi mereka berdua.

Kakek, sudah siap hidangan makan malam. Cerita kakek Salman selesai ketika bibi pembantu memberitahukan bahwa hidangan makan malam sudah siap, hamper 6 jam kake salman bercerita panjang lebar hingga waktu sholat magrib sudah datang.
“ nanti bi, kita akan melaksanakan sholat magrib terlebih dahuliu.”
Mereka berdua melaksanakan sholat magrib berjamaah di mushola rumah. Orang yang memimpin solat magrib itu Suparman. Fasilitias serta kekayaan akan jatuh ketangan Suparman sebagai pewaris tunggal dari 2 perusahaan turun temurun.
Anak dan orang tua kini berkumpul bahagia, meskipun tak lengkap dengan ibunya.  Canda tawa serta obrolan panjang lebar terjadi saat mereka makan malam.  
Suparman merasa tak enak hati karena meninggalkan keluarga kecil dirumah a tanpa sepatah kata untuk bermalam dirumah sini..
“ pak, istri dan anak- anakku pasti mengkhawtirkanku karena tak pulang 
“ ya sudah pagi- pagi kamu ke rumah diantar sama mang supir. Kalau sekarang pulang sudah larut malam. Tidur saja di kamar kamu.” Sambil menunjukan kamarn pada Suparman di lantai atas.
“ begitu megah serta mewah rumah ini pak,”
“ Alhamdulillah Allah telah memberikan rizki yang tak terhingga, kepercayaan ini bapak takan pernah mendustakan nikmat ,”
Suparman beristirahat dikamar sekelas hotel berbintang. Kasur empuk, pendingin ruangan terlihat mentereng serta ada kulkas minuman didalam kamar.     
Suparman terlelap bersama mimpi indah, bermimpi bertemu dengan sosok wanita sedang menunggu dibawah rindangn pohon.
Heran serta termenung melihat sosok peremuan entah sedang apa yang dilakukan disana, Suparman hendak menghampiri perempuan tersebut. Langkah kaki seperti tak terdengar di tengah padang pasir tapi entah kenapa ada pohon rindang di daerah sana. Pertanyaan- pertanyaan seperti itu terus muncul dalam diri Suparman. Semakin dekat terus semakin dekat tapi wanita itu tak menoleh sama sekali.
“ permisi…..!!!”
Masih belum juga menoleh sosok seorang wanita itu, terus memberikan  bisikan hati Suparman merasa terketuk saraf- saraf kesadaran diri. Cerita bapak tadi siang memberikan gambaran bahwa sosok seorang wanita itu adalah ibu Suparman.       
Disapapun tak ada sautan serta jawaban, hanya bergembira ria di bawah pohon rindang. Suparman terus mengamati sosok wanita itu, termenung membisu. Ceria serta bahagia sosok wanita di ayunan itu. Tak berapa lama kemudian muncul cahaya diatas pohon rindang itu, entah cahaya apa, padahal terik matahari di siang bolong itu membuat Suparman gerah serta kehausan sekali. Tapi wanita dalam ayunan seperti merasa tak kepanasan. Cahaya itu semakin dekat pada sosok wanita di atas ayunan. Meskipun berdekatan seperti tak pernah melihat Suparman.
Beberapa lama kemudian mucul sosok bayi dari atas cahaya berseri- seri  Nampak wajah dan bercahaya menghampiri wanita di atas ayunan. Tak ada tangisan bayi, hanya terdengar suara senang ria.
Suparman terharu serta campur rasa iri pada bayi dalam pelukan wanita di atas ayunan. Seolah ingin merasakan dekapan dan pelukan seorang ibu, tangisan Suparman tak terbendung lagi, muncul lagi sosok peria dari sebrang gurun pasir seperti tak asing lagi bagi Suparman. Berjubah putih, ,mengenakan sorban serta makhota keislaman. Tak salah lagi tafsiran Suparman atas  sosok peria sedang berjalan diatas padang pasir. Semakin jelas dan benar saja tafsiran perasaan Suparman, sosok ayah Suparman dengan gagah menghampiri wanitu dan bayi dibawah pohon rindang.
Salam serta tegur sapa terjadi dihadapan Suparman, kemudian hati Suparman bertanya- Tanya?
“ Apakah sosok wanita itu adalah Ibuku dan bayi dalam gendongan perempuan itu dalah aku?”
Kemudian mereka pergi menuju arah cahaya dan meninggalkan pohon rindang. Sedangkan Suparman merenung sendirian dibawah pohon rindang di tengah- tengah padang pasir yang sangat panas sekali.                                                                                                                                                            
Aliran cahaya diatas terik matahari gurun padang pasir merubah paradigma Suparman bahwa hidup itu tak ada yang tak mungkin. Motivasi serta dorongan untuk sukses baru saja dimulai.
Terbangun dari mimpi panjang, Suparman mengucapkan “ Astagpirullah Aladzim, alhamdulillahilladi ahyana ba’dama amatana wailaihi nusur”,
Pukul 02.50 waktu yang di lihat Suparman di jam dinding kamar. Bersiap- siap untuk menunaikan sholat tahajud.
Disisi lain, semalaman Ibu putri, Solohin, Roni, taqwa serta Iman mengkhawatirkan Bapak mereka semalaman, mereka tahu bahwa  Suparman akan mampir kerumah kakek Salman.
Meskipun demikian mereka tetap belajar dan berkatifitas karena Suparman sudah memberitahu bahwa akan ke rumah pak Salman.
Suara ayam sudah berkokok menandakan pagi akan segera tiba, mentari dan rombongan dalam perjalanan mencerahkan seluruh dunia.
Di rumah sederhana ibu putri seperti biasa mempersiapkan segala sesuatu bagi ke empat anak yang akan berangkat menimba ilmu.
Kondisi tak biasa ini baru pertama kali dirasakan oleh Suparman, pagi- pagi masih dalam kamar, roti bakar serta teh sudah di persiapkan bibi pembantu. Berita televisi sudah tersiar dikamar sendiri tak perlu lagi nongkrong di warung tetangga.
Teringat masa lalu, setiap pagi Suparman bejalan berpuluh-puluh kilometer untuk mendapatkan tumpukan rejeki demi menghidupi seluruh keluarga di rumah.
Suparman di tugaskan bapak Salman untuk les terlebih dahulu sebelum terjun kedunia pengusaha, agar perusahaan yang akan dikelola nanti berkembang lebih pesat dari sekarang.
perumpamaan persiapan tanah sebelum ditanami bibit agar tumbuh cepat dan besar. Itulah strategi yang dilakukan Suparman dalam berbisnis. Sebelum private Pa Salman ingin sekali cucu serta menantu  juga tinggal dirumah ini.
Namun Suparman belum bisa mengajak ke rumah sebesar ini, biarkan dulu mereka tumbuh dewasa dalam keadaan sederhana.
“ Mereka tak akan dulu di beri tahu tentang semua ini pa,”
Pakaian compang- camping dipakai lagi agar mereka tak curiga kalau Suparman adalah anak pewaris tunggal dari 2 perusahaan raksasa.
Seperti biasa pagi itu ke empat anak Suparman sudah meninggalkan rumah untuk menimba ilmu , juga ibu Putri sudah berangkat kerja. Gerimis serta angin menyambut kedatangan Suparman di rumah. Sepi ditengah gerimis air hujan di luar sana memberikan kesan lapar pada perut. Terlihat makanan kesukaan Suparman sudah di siapakan di atas meja makan. Tergiur serta tergoda oleh makanan kesukaan, Suparman tak berpikir panjang lebar melahap makanan.  
Menunggu kedatangan istri serta anak- anak, Suparman sudah lama tak membereskan tanaman dihalaman rumah.
Perlahan lahan rumput tak diundang di bersihkan serta tanaman- tanaman sayuran dalam polibek di siram. Suparman merasa senang dan bahagia bila setiap pagi hari seperti ini terus berlanjut.
Siang semakin dekat, Suparman juga mencoba untuk menghidangkan makanan bagi istri dan anak- anak nanti. Setelah jadi baru di hidangkan diatas meja makan.
Satu persatu mereka sudah pulang.
“ assalamualaikum,”
“Waalaikiumsalam, ehhh , udah pulang nak. Kemana kakak- kakak kamu?”
“ Alhamdulillah sudah pa, mungkin masih dijalan . soalnya Iman pulang lebih awal”
“ya sudah, kamu ganti baju dulu. Kita makan bersama setelah semua pulang”
“ iya pa”
Iman pergi kekamar untuk istirahat sejenak serta mengganti pakaian. Sementara Suparman menunggu yang lain.
Selang beberapa menit semua anak Suparman pulang tinggal menunggu istri tercinta dari tempat bekerja.
Sudah lama sekali suparman tak pernah ada dirumah dikala mentari mengemukakan sinar. Dibalik kaca Dari dalam rumah sudah terlihat Putri melangkah menuju kerumah, Suparman bergegas membukakan pintu serta menyambut di halaman rumah.
Mata tersayup-sayup melihat suparman berada dirumah,seakan tak ada dirumah sudah berbulan- bulan padahal baru satu malam tak pulang ke rumah.
Perlahan tapi pasti langkah Putri sampai ke pintu rumah dan bebincang rindu dengan Suparman. Tak lupa Suparman langsung menyiapkan kursi bagi Putri. Lelah menghampiri putri namun seketika hilang karena melihat Suparman begitu berbeda pada siang hari itu.
Anak- anak Suparman berdatangan ke ruang makan dengan tertib.
“ibuuu,….”,  ujar Iman
“ eehhh Iman, sudah lama pulangnya nak?”
“ alhamdulillah ibu, sudah agak lama”,
“ ayo cepat duduk yang rapi”,
“ ooh iya bu, setelah makan jangan dulu meninggalkan tempat makan ini, bapak mau bercerita” kata Suparman
“ penting banget niih pa?”
“Sangat penting sekali bu”,
“Soleh!! Kamu pimpin doa sebelum makan”,
“Siap pa, Bismillahirrahmanirrahim. Allahumma Baariklana piima rojak tana wakina adza banner birahmatika ya arhamarrahimin walhamdulillahirabbil alamin”,
“aminn”, ujar semua.
Piring-piring berisi nasi serta lauk pauk dimakan perlahan- lahan, menu makan siang Suparman sekeluarga kali ini kumplit. Empat sehat lima sempurna, karena suparman tak pernah melupakan  kebutuhan gizi bagi anak serta istri.
Tak ada perbincangan dalam meja makan, suparman berhasil mendidik anak- anak agar mentaati etika dalam kehidupan sesuai syariat islam, salah satu didikan yang diberikan yaitu jangan berbicara ketika sedang makan.
Tak ada sisa- sisa satu nasipun dalam piring dihadapan Suparman serta istri dan anak- anak. Menghargai makanan sekecil apapun sudah diajarkan Suparman pada anak- anaknya.
Tak ada riwayat pendidikan dalam kamus kehidupan Suparman, sekolah dasar, menengah pertama ataupun menengah atas belum pernah di duduki. Berbekal dari pengalaman hidup serta ilmu- ilmu yang diberikan imam masjid seusai sholat berjamaah selalu Suparman amalkan.
“Roni,!! Kamu pimpin doa setelah makan”,
“ baik pa, Bismillahirramaanirrahim, alhamdulillahilladzi at’amana wassakona wajj’alana minal muslimin,”,
“Alhamdulillah kita masih bisa mendapatkan rejeki makan untuk hari ini, semoga besok dan seterusnya masih diberikan rejeki lagi dari Allah swt.”.
“ makan sudah sekarang bapa mau bercerita apa?”, Tanya Ibu putri.
“ naah , bapa mau bercerita soal kemarin malam tidak pulang,begini, kemarin  bapa bermalam di rumah kakek Salman beliau bercerita panjang lebar sehingga hari semakin larut malam. Kakek salman bercerita tentang masalah pribadi. Bapa malam hari mau pulang Cuma kakek Salman berkeinginan bapa tidur semalam disana, apa boleh buat bapak tidur disana agar tidak menyinggung perasaab kakek Salman.”
“ terus kakek Salman bercerita peribadi apa?”,
“ kakek salman kesepian karena sudah lama anak serta istri Kakek Salman meninggal, terus bapa mau minta izin pada kalian mulai dari hari besok sampai satu minggu kedepan bapa akan mengikuti pelatihan di luar kota”,
“ pelatihan apa pak?” Tanya solihin.
“ bapak juga tidak tahu betul, nanti kalau sudah dikasih tahu, itu saja yang ingin bapak sampaikan pada kalian. ”,
“ ya sudah, asalkan bapa selamat ibu mengijinkan”,
“terimakasih bu sayang”,
Sejak dari itu Suparman bersemangat untuk mengikuti pelatihan meskipun keluarga kecil di rumah belum mengetahui bahwa Suparman adalah pewaris tunggal dari dua perusahaan raksasa.
Makan siang selesai, seperti biasa anak- anak Suparman membersikhkan piring- piring kotor dengan tertib dan teratur. Putri menggarap piring –piring kotor sisa.
Hari semakin sore dan larut dalam kegelapan malam. Keheningan menyelimuti rumah keluarga suparman. Suasana serta aktivitas Tak ada yang berbeda dari malam- malam biasa. Keadaan serta rasa degdegan dalam jiwa Suparman berbeda dari malam biasa, susah tidur serta perasaan melayang kemana- mana seakan mimpi yang jadi kenyataan.
Semakin larut rembulan malam menyelimuti hamparan bumi. Mata serta hamparan bulu dalam tubuh Suparman beristirahat diatas tumpukan tumpukan kapuk dalam susunan rapih.
Mata serta anggota tubuh Suparman memang terlelap dalam kesunyian malam, hati serta pikiran Suparman tak pernah lepas dari ketegangan.
Kemilau harta sering kali orang jadi salah arti, hidup di dunia ini hanya sementara tak ubahnya seperti buah segar, lama kelamaan membusuk tak diinginkan kembali.
Malam terasa seperti setetes air dari ujung daun talas. Ayam berkokok menandakan pagi sudah datang kembali. Seperti biasa Suparman bangun dari ketegangan saat semua orang terlelap dalam ketenangan.
Suara air hujan terdengar begitu deras. Petir mengeluarkan suara maha dahsyat sehingga ketegangan Suparman begitu terasa bertambah denting. Kelap kelip suara air hujan menghimpit suara kokokan ayam piaran Suparman.
“dddaaaarrrrr”!!!!.
Petir tak henti- henti mengeluarkan keperkasaannya. Rumah suparman tiba- tiba mengeluarkan tanda- tanda akan roboh diterjang badai hujan disertai petir, sedangkan Suparman didalam wc untuk mengambil air wudhu seperti kilat menyambar langsung keluar.
“ subhanalloh, subhanalloh, subhanalloh, subhanalloh,” terus dan terus di ucapkan suparman.
Ketegangan suparman mulai reda ketika petir itu sudah tak mengeluarkan bunyi yang maha dasyat. Atap rumah yang bocor tak terlalu di khawatirkan Suparman, karena baru kali pertama hujan turun padahal belum waktunya.
“ subhanalloh, Allah berkehendah menurunkan beribu air dari atas langit seketika meskipun bukan waktunya” dalam hati  suparman berkata.
Istri serta anak- anak Suparman tak terganggu oleh suara hujan badai serta gelegar petir, .
“ kenapa ini? Ada apa ini?, apakah ALLAH memberikanku petunjuk? “, bertanya tanya sendiri.
Niat Suparman membangunkan istri serta anak- anaknya sampai tak jadi, apakah ini petunjuk bahwa Allah bisa mengangkat harkat martabat dan derajat seseorang sama seperti Allah menurunkan badai hujan di dinihari ini.
Pertanyaan itu terus terngiang dalam hatinya. Tak lama merenung tak karuan, dengan cepat Suparman melanjutkan kembali niat pertama mengambil air wudhu untuk melaksanakan solat sunat.
Dalam doa Suparman memohon untuk dilancarkan dalam segala urusan dan diberikan petunjuk bagi  yang sedang tegang dan bingung.
“ Ya allah yang maha pengasih lagi maha penyayang ku bersujud dan meminta pertolongan padamu. Hambamu ini yang penuh dengan dosa dan tempat segala kesalahan sedang dalam kebingungan serta ketegangan, berikanlah petunjuk atas segala kalang kabut ini Ya rabbku, apakah badai sesaat tadi engkau turunkan untuk memberikanku petunjuk, berikanlah aku kekuatan untuk menghadapi semua cobaan dalam hidupku ini. Aku tak pernah meminta untuk kaya raya, aku hanya meminta agar segala sesuatu kebutuhan keluargaku Ya Rabb, tapi jika engkau berkehendak lain aku siap menjalani kehidupan ini. Robbana atina fiddun ya hasanata wafil akhirati hasanata wakina adza bannar”,
Sembah sujud Suparman tak pernah terlewatkan pada sang maha pencipta,siang dan malam bibir Suparman terus basah dengan kalam ilahi. sehingga kerendahan hati serta ketabahan dalam diri Suparman tak pernah di ragukan lagi. Pepatah mengatakan bahwa doa adalah obat mujarab untuk menentukan nasib seseorang.
Hujan lebat kini telah reda seiring dengan Suparman selesai berdoa, entah itu kebetulan atau apa, namun suparman hanya percaya bahwa semua kehendak Allah swt.
Membangunkan Istri dan anak- anak sebelum sholat subuh berjamaah adalah suatu kewajiban bagi Suparman.
***
Matahari terus menampakan sinar- sinar kehidupan. Suparman bersiap- siap berkemas untuk berangkat ke rumah Pa salman, bapak kandung sendiri untuk mengikuti pelatihan.  tak sekolah  bukan halangan bagi suparman, naluri otak serta cara kerja nalar berfikir begitu membanggakan meskipun hanya seorang pemulung.
meminta doa restu sebelum berangkat tak pernah terlewat apalagi akan meninggalkan rumah seminggu tanpa kabar. Tangis haru berlinang air mata. Anak- anak suparman tak kuasa ketika seminggu tanpa Suparman.
Namun mau gimana lagi, takdir memang tak bisa di tolak. Suparman harus mengikuti pelatihan yang di berikan oleh Pak Salman. Pewaris tunggal dua perusahaan raksasa anak dari konglomerat. Cita- cita Suparman untuk bisa membahagiakan keluarga kecil di rumah semakin terbuka lebar.
Langkah kaki Suparman semakin jauh dari rumah, pakaian compang camping yang biasa di pakai untuk bekerja setiap pagi. Kini langkah kaki Suparman berbeda dari hari biasa, mengenakan pakaian rapi serta harum haruman terisap jelas.
Dalam langkah kaki suparman berdoa agar dalam pelatihan nanti bisa mendapatkan sesuatu ilmu baru dan pengalaman baru agar bisa mengelola perusahaan Pak Salman.
Semakin teringat, pak Salman sangat sudah tua, pengabdian sebagai seorang anak Suparman harus benar- benar yang tebaik.karena waktu terus berjalan dan umur siapa yang tahu.
Suparman juga belum memberi tahu keluarga kecil di rumah tentang kenyataan sebenarnya. Bahwa suparman adalah anak dari Kakek Salman.
“ assalamualaikum”
“ waalaikumsalam”,
“ bapak kenapa? Sakit?,”
“ engga nak, ini mungkin Cuma factor umur. Ayoo silahkan masuk.”
“ jangan banyak bergerak pa, nanti tambah parah lagi. “
“ ga apa apa nak, bagaimana keluarga kamu? Apakah sudah dikasih tahu bahwa kamu adalah anak bapa?”
“ belum pak, nanti saja kalau sudah selesai pelatihan. Aku takut mereka syok.”
“ ya sudah tidak apa- apa, nanti siang kamu berangkat ke Singapura untuk menerima pelatihan bisnis nak, sekarang persiapkan apa saja yang harus dibawa”,
“ hahhhhh??, singapura pak?”
“ iya nak, disana bapak punya seorang teman guru besar perbisnisan, kamu akan di asah ilmu serta diberi wawasan tentang manajemen bisnis.kamu disana harus bersungguh- sungguh, kalau kamu mantap satu minggu insya allah beres. Tapi kalau kamu tidak bersungguh- sungguh satu tahun takan pulang- pulang.”
“ insya Allah pa, aku akan bersungguh- sungguh dalam menimba ilmu disana, meski umur sudah tak muda lagi tapi aku akan berusaha.”
“ ayo cepat ambil barang kamu di kamar, sudah bapak siapkan untuk pemberangkatan.”
“ tapi pak? Aku nanti naik apa kesingapura?”
“kamu nanti naik pesawat terbang biar cepat sampai”
“ iya pa.”
“ setelah berkemas, kita makan dulu di resto. “
Niat serta keinginan begitu kuat dari dalam hati Suparman untuk membahagiakan Pak Salman.
Tapi Suparman merasa bersalah karena sebelum berangkat tidak berkata jujur pada istri serta anak anak bahwa akan melaksanakan tugas keluar Negara demi masa depan perusahaan serta membahagiakan pak Salman yang masih ada.
Mobil untuk mengantarkan ke bandara sudah siap. Bapa dan anak kini berjalan bersama dari ruang tamu menuju mobil.
Tak pernah ada keluhan sedikitpun dari mulut suparman, karena Suparman tahu bahwa membahagiakan kedua orang tua adalah wajib. Dulu Suparman kira bahwa kedua orang tuanya menelantarkan karena seperti anak tak di inginkan. Tapi setelah mendengar penjelasan dari Pak Salman semua menjadi bersih.
Di tengah perjalanan ada restoran megah, pak Salman menyuruh sopir untuk memberhentikan mobil di restoran tersebut. Tak disangka Suparman, pegawai serta pelayan disana menghomati Pak Salman.
Kebingunganpun mengampiri Suparman, setelah mereka duduk di meja special. Suparman bertanya pada Pak Salman.
“ pak, kenapa semua orang menghormati bapak disini, seakan – akan sudah kenal?”
“ ooohh itu, iya semua orang tahu bapak disini, karena ini salah satu cabang bisnis kecil bapak,”
Terdiam kaget, kekaguman Suparman pada Pak Salman tak di hiraukan lagi.
“ jadi ini milik bapa?”
“iya nak, ini nanti salah satu bisnis yang akan kamu kelola.”
Suparman hanya bisa tersenyum haru,
“ ini adalah bisnis bapak saat perusahaan sedang melegit, bapak tahu keduniawian tak bertahan selamanya. Tapi asalkan berusaha dengan ikhlas semua itu terbantahkan.” Ujar pak salman.
Menu pesanan begitu komplit, seperti tak ada kata tak enak dalam hidangan. Anak dan bapak makan berdua dikelilingi suasana persawahan nan indah. Begitu terasa suasana kekeluargaan pedesaan.
Tak habis semua hidangan dihadapan mereka berdua. Sedangkan perut mereka berdua sudah tak dapat menampung lezatnya makanan itu.
Suparman baru tersadar dari kebingungannya,
“ pantas saja makanan dirumah bapaku sangat enak- enak mungkin dari restoran, tapi katan pak Salman bibi dirumah yang memasak, mungkin resep rahasia ini diberikan pada bibi biar makanan yang dibuat sama persis seperti di restoran.” Ujar dalam hati.
Pak Salman memanggil pelayan untuk memberitahu bahwa acara makan sudah selesai. Tanpa membayar kekasir , mereka berdua naik mobil untuk melanjutkan perjalanan kebandara.
Pak Salman menitip pesan pada Suparman,
“kalau sudah sampai disana nanti kasih kabar bapa ya nak,”
“ tapi pak, aku tidak punya handphone. “
“ ooh iya pakai saja ini punya bapa, didalamnya sudah ada soft copy file file perusahaan serta bisnis- bisnis lain yang bapa kelola”,
“nanti bapa pakai apa? Kalau tlepon genggam ini diberikan.”
“ itu soal mudah nak, bapak nanti tinggal beli lagi.”
Percakapan itu mulai menggambarkan kehangatan antara mereka berdua, bandara semakin terlihat. Suara lalu lintas pesawat terbang begitu menggelegar. Dari luar sana sudah terlihat berjejeran pesawat terbang dengan berbagai kapasitas dan berbagai jurusan.
“ nak, bapak hanya bisa mengantar kamu sampai sini. Tiket pesawat sudah ada di dalam tas. Kalau ada apa apa langsung kabarin saja.”
“ iya pa, aku pamit dulu karena jadwal pemberangkatan tinggal 5 menit lagi. Assalamualaikum,” sambil mencium tangan Bapaknya saat pamitan.
“ waalaikumsalam,”
Tas di gendong serta koper di tarik Suparman. Lambaian tangan Pak Salman dibalas Suparman.
Baru pertama kali Suparman naik pesawat terbang, degdegan serta waswas menghantuinya. Pesawat yang di pesan pak Salman untuk suparman yaitu pesat kelas exekutif.
Suparman kebagian kursi di bagian depan, sebelum duduk ternyata sudah ada teman di sebelahnya. Kulit agak keputih- putihan, rambut ikal, agak gemuk, Memakai kemeja, dasi , jas rapi serta jam tangan mentereng.
“permisi pa? saya duduk dikursi itu,”
“ooohh yyyya, silahkan.”
“ kalau boleh tau bapa mau pergi kemana?”
“ kamu bodoh atau apa? Ya jelas ke singapur laaahh, inikah pesawat jurusan Negara singapura.”
Terdiam tanpa kata sejenak, ternyata lelaki teman duduk dikapal tersebut mempunyai watak temperamental, namun Suparman mencoba berdiskusi dengannya.
“iya juga ya, inikah jurusan Singapura. Kalau boleh tau nama bapa siapa?”
“niiih baca aja, di baju sebelah kanan saya ka nada .”nada tinggi.
Semakin muntah emosi, Suparman tak kembali bertanya karena merasa sesak didada. Ketika kapal akan terbang, jantung suparman bergetar tiga kali lipat dari biasanya.
“ jangan lebay heh,” ujar lelaki mengerikan itu.
“ iya maaf pa, ini kali pertama saya naik pesawat terbang. Maaf sekali ,”
“pantesan, namaku Heri, kalau nama kamu Siapa?”
“nama saya Suparman,” sambil berjabat tangan.
“ kamu mau ngapain ke singapura?”
“ saya di tugaskan bapak saya untuk berlatih bisnis ke salah satu sahabat bapak saya yang bekerja di singapura, kalau kamu?”
“ saya di perintahkan oleh bos saya untuk berdiplomasi barang export minyak kelapa sawit kesana,”
“ kamu kesana nanti mau ke daerah mana setelah turun di bandara internasioal Changi Singapura?”
“ nanti saya ada jemputan disana, saya tak tahu daerah- daerah di sana,”
Oh begitu, saya kasih tau di negara singa itu ada daerah
Aljunied ,Ang Mo Kio, Bedok,  Bishan,  Boon Lay , Braddell, Bukit Batok, Bukit Gombak, Bukit Merah, Bukit Panjang, Bukit Timah, Buona Vista, Changi, Chinatown, Choa Chu Kang, Clementi, Dover, Dhoby Ghaut, Geylang, Ghim Moh, Holland Road, Holland Village, Hougang, Jalan Besar, Jalan Kayu, Jurong, Kallang, Katong, Kampong Glam, Kembangan, Kranji, Lim Chu Kang, Little India, Macpherson, Marina Bay, Marine Parade , Novena, Orchard Road, Outram, Pasir Panjang, Pasir Ris, Paya Lebar, Potong Pasir, Punggol, Queenstown, Raffles Place, Seletar, Sembawang, Sengkang, Serangoon, Serangoon Gardens, Siglap, Simei, Tampines, Tanjong Pagar, Telok Blangah, Thomson, Tiong Bahru, Toa Payoh, Tuas, Woodlands, Yew Tee, Yio Chu Kang, Yishun.
Naaah kalau pulau disingapura ada beberapa seperti, Pulau Jurong, Pulau Kusu, Pulau Brani, Pulau Hantu, Pulau Semakau, Pulau Tekong, Pulau Ubin, Pulau Sentosa, Pulau Saint John dan Pulau Sisters.”
“hhahhh, ko kamu tahu banyak tentang Singapura?”
‘ Negara singa itu kecil, jadi saya bisa hafal dengan waktu singkat tempat- tempat disana, lagian saya sering berkunjung kesana.”,
“ pantesan, “
“berapa lama kamu akan tinggal di sana?”
“Aku belum tahu betul.”
“aku mungkin 2 minggu berada di singapur, jadi kalau kamu sempat mampit ke Novena.”
“oke, ooh iya boleh minta nomer kontak kamu?”
“ ini..”
“nanti. Kalau aku sudah sampai ke tempat tujuan entar di kasih kabar.”
“oke, yu kita istirahat terlebih dahulu, karena lumayan dari bandara soekarno hatta ke bandara internasional changi memakan waktu kurang lebih satu jam setengah,”
Mereka berdua beristirahat dengan tenang karena pesawat yang dinaiki kelas exekutif. Hingga Suparman bermimpi  di suasana Negri singa itu.
Tatkala sampai di negri singa, Suparman langsung di jemput dengan rengrengan mobil mewah dan pengawal besar besar. Saat masuk mobil jemputan Suparman langsung masuk dalam dunia diskotik dan dunia hiburan malam. Suparman merasa bergetar melihat wanita sexy serta cantik rupawan berada ditengah kerubunannya.
Melihat wanita- wanita seksi seperti itu dan berada ditengah kerumbunannya, Suparman merasa seperti orang- orang kafir di era moderenisasi, sekarang Suparman sadar bahwa dunia luar begitu bejad serta akhlak mereka sudah tak terkendali.
Melawan ideologi keislaman membuatnya terpaksa keluar dari diskotik itu, godaan wanita tak mempan bagi Suparman. Meskipun iya sekarang anak konglomerat namun besiknya seorang pemulung memantapkan keluar dari jurang kemaksiatan.
Tadinya Suparman masuk ke kamar mandi agar lebih tenang, tapi tiba- tiba malah masuk ke dalam tempat psk berkeliaran. Banyak sepasang laki- laki dan perempuan sedang memadu kasih di ruangan club malam.
Salah satu wanita menggoda Suparman dengan menyentuh serta menarik Suparman untuk dibawa kedalam kamar. Perlahan Suparman tak bisa mengendalikan diri dari kecantikan wanita penggoda. Kamar yang dituju kira kira berjarak 10 meter.
Perlahan demi perlahan pintu kamar terbuka lebar, suara anak- anak Suparman entah dari mana datangnya dan berteriak.
“ bapak jangan, bapaaaakk jangan,”
 anak- anaknya terus berteriak agar bapaknya tidak terjerumus kedalam jurang kemaksiatan.
Kemudian Suparman berusaha mencoba melepaskan tarikan wanita penggoda itu dan berhasil. Lari dan pergi dari sana, Suparman mencari pintu keluar karena sudah muak. 30 menit berlalu masih tak kunjung ketemu pintu keluar yang diinginkan. Merasa sudah prustasi dari hal itu semua, tiba- tiba muncul pintu berwarna putih dari belakang Suparman.
Sontak membuat Suparman kaget dengan munculnya pintu putih dibelakangn. Suparman penasaran dan mencoba masuk agar kedalam .
Gemuruh serta sorakan orang- orang membuat Suparman heran, tiba- tiba Suparman berada di atas mimbar di aula besar sekali yang dipenuhi beribu- ribu pasang mata. Datang salah seorang laki- laki dengan tubuh kurus, berkacamata, kepala atas  botak, serta memakai jas putih.
Mebawa satu buah pila penghargaan yang akan di berikan pada seseorang. Tak diragukan lagi piala penghargaan itu akan diberikan pada Suparman karena di atas panggung hanya ada Suparman seorang. Serah terima dilaksanakan. Namun ketika saat serah terima dan akan dipotret.
“Suparman bangun, Suparman ayo cepat bangun, kita sudah berlandas di bandara Internasional Changi,”
“hoooammm, apa kita baru sampai?ya ampun berarti tadi hanya mimpi sesaat,”
Ternyata kejadian yang dialamai tadi hanya sebuah bunga tidur Suparman. Suparman juga jadi ketawa- ketawa sendiri karena peristiwa seperti itu sesuatu hal yang sangat tidak diharapkan.
Mereka berdua berkemas barang agar tidak ada yang tertinggal di pesawat. Satu jam setengah lebih 15 detik waktu yang di butuhkan pesawat yang di duduki Suparman dan heri ketika terbang. Perasaan pertama kali naik pesawat udara, ketegangan serta ketakutan sirna. Apalagi mimpi itu memberikan hikmah pada Suparman bahwa setiap keburukan pasti Allah swt memberikan kebaikan.
Saat keluar dari pintu pesawat, sudah ada yang melambaikan tangan serta membawa kertas agak besar bertuliskan Suparman. Endapan serta harapan agar cepat menyelesaikan pendidikan bisnis di Negri Singa.
Sebelum Suparman dan Heri berpisah mereka pamitan terlebih dahulu.
“oooh ya man, semoga kamu cepat menyelesaikan pendidikannya. Kalo sudah selesai hubungi saya saja,”
“iya isya allah, kamu juga her semoga sukses, aku berangkat dulua ya, soalnya sudah ada yang jemput,”
“ hati- hati,”
Mereka berdua berpisah, barang- barang yang di bawa Suparman di serahkan ke petugas yang telah di perintahkan Pak Salman.  Mobil pribadi sudah ada di parkiran bandara untuk membawa Suparman ke rumah. Karena Pak Salman mempunyai Rumah di singapura.
Dalam perjalanan, ketakjuban dari indahnya  negri singa itu terpancar dari jalan yang rapih, trotoar tertatar rapih, dan tak ada kemacetan di setiap sudut jalan yang dilewati.
Gedung pencakar langit tepi laut membuat indah tersendiri negri singa.
“ masih lama ya pa?”
“bentar lagi ko pa, paling  25 menitan lagi sudah sampai dirumah.”
“ ya sudah, kalau begitu aku tidur dulu sebentar, nanti bangunkan kalo sudah sampe.”
Suparman beristirahat terlebih dahulu dimobil untuk menangkan perasaan serta pikiraan.
“pa sudah sampai.” Ujar Supir sambil membangunkan Suparman.
“ sudah sampai?, “
Terlihat rumah mentereng dan besar saat Suparman membuka pintu mobil disana.
Aktivitas serta tugas Suparman baru saja di mulai demi mewujudkan harapan Pak Salman di negri Singa.
Dirumah, kelurga kecil selalu mendoakan Suparman agar selamat dan dimudahkan dalam segala urusan yang di jalani. Istri serta anak anak Suparman tak tahu kalau pergi keluar negri untuk melaksanakan tugas dari pak Salman karena masih di sembunyikan, apalagi mengenai Suparrman telah bertemu dengan bapak kandung dan pewaris tunggal perusahaan raksasa.
Putri seolah rindu akan Suparman, meskipun kepergian Suparman hanya beberapa hari namun membuat sesak hati serta pikiran. Putri mencoba tabah dan mencoba menerima kenyataan.
Solihin, Roni, Taqwa serta Iman tak panik karena mereka mengerti satu sama lain dengan Suparman.
Hari demi hari terus berjalan, Suparman terus mengasah kemampuan berbisnis di bawah bimbingan Prof. merygan. Satu persatu rangkaian ilmu terus mengalir kedalam otak suci Suparman.
Hingga habis Ilmu dari Prof. merygan di telan Suparman. Membutuhkan waktu kurang 10 hari untuk menyelesaikannya. Suparman akhirnya lega bisa menuntaskan pendidikan bersama seorang Profesor.
Disana Suparman menghubungi teman saat di pesawat via telepon. Karena tak bisa menemui .
“ assalamualaikum, her dmana?”
“waalaikumsalam, aku lagi di kantor. Bagaimana pendidikan bisnis kamu, apakah sudah beres?”
Alhamdulillah, beres her. Aku tak bisa menemuimu disini . karena keluarga aku menunggu kepulanganku. Maaf sekali ya her, nanti sore aku akan terbang ke Indonesia.”
“ ooh gitu, iya gapapa. Nanti saja kita bertemu di Indonesia. Hati – hati.”
“ terimakasih her. Assalamualaikum, “
“ ya sama- sama, waalaikumsalam”
Setelah itu Suparman berkemas pulang kerumah untuk memburu jadawal penerbangan pada sore hari. Tak lupa membeli oleh- oleh terlebih dahulu untuk istri dan anak- anak.
Penampilan Suparman kini memai jas, dasi, baju kemeja layaknya pengusaha. 2 jam lagi untuk menuju bandara internasional change. Suparman seperti biasa beristirahat di dalam mobil.
Merasakan kenikmatan serta kedasyatan ilmu berbeda sekali ketika hidup tanpa ilmu dan pengalaman. Segala sesuatu bisa dikerjakan dengan mudah dan gampang apabila memakai ilmu.
“mang terimakasih ya atas segala bentuk bantuan di sini, aku pamit pulang dulu .”
“iya pa sama- sama”
Suparman pulang dengan kegembiraan serta kebahagian atas keberhasilan dalam melahap semua ilmu yang telah diberikan guru besar merygan. Namun perasaan sedih menghantui Suparman, ijin pada anak dan istri hanya 7 hari sedangkan waktu yang di tembuh 10 hari. Ketakutan suparman pada istri dan anak- anak berlebihan mengakibatkan perjalanan pulang terasa hampa.
Rindu tak terbendung pada sanad keluarga, perjalanan sebentar menjadi agak lama. Untung di bandara soekarno hatta sudah di jemput pa salman, dalam perjalanan pulang Suparman curhat tentang perasaan kerinduan pada keluarga serta kekhawatiran pada istri dan anak- anak.
“ tenang dulu- tenang dulu nak, keluargamu pasti mengerti dengan kondisi kamu saat ini, banyak sekali perubahan yang terjadi padamu saat ini. Dari penampilan saja, kamu sudah seperti pengusaha ulung.”
“masa sih pa?,”
 “ya sudah kita sekarang ke rumah kamu langsung untuk menjelaskan semua yang terjadi”
Enam jam waktu tempuh dari bandara soekarno hatta ke rumah Suparman, degdegan terus karena kekhawatiran yang tak kunjung padam.
Disela- sela waktu luang, pa Salman mencoba member motivasi agar ketegangan itu tak muncul lagi.
Rumah bersih, tanaman terurus serta suara canda tawa di dalam rumah terdengar begitu mesra. Suara itu terhenti ketika suara mobil sedan Mercedes ben datang.
Sontak mereka terkejut Karena kedatangan mobil itu, mereka bertanya- Tanya siapakah gerangan yang datang kerumah. Padahal belum pernah ada orang yang membawa mobil kerumah.
Pintu di buka , sepatu mahal turun dari mobil. Perlahan belum ketaksir orang yang memakai jas, berdasi serta diiringi kakek- kakek.
Tak disangka, sosok seseorang yang selalu memakai bagu compang camping kini mekakai jas, berdasi serta memakai kemeja.
“ bapaaaaaaaa” teriak hesteris haru anak- anak.
“ maaf bapa tidak tepat waktu dalam kepulangan,” sambil memeluk anak- anaknya.
“ bapa dari mana saja, ko lama?”
“ iya nak nanti bapa jelasin”,
“Ayoo silahkan masuk pak, ooh iya bapa membawa oleh- oleh buat kalian,”
“Mang tolong ambilin oleh- olehnya di bagasi mobil”, teriak Suparman.
“iya pa”
Mereka berkumpul diruang tamu .
“ sebelumnya Perkenalkan anak- anak, ini adalah Bapak Salman, beliau adalah bapak kandung bapak. Puluhan tahun bapa menganggap bahwa bapa tak mempunyai keluarga serta orang tua. Ternyata kakekmu ini sengaja menelantarkan bapak supaya mandiri.”
“Terus, bapa sekarang sudah dari mana?”
“ kakekmu adalah pengusaha yang begitu sukses nak, sekarang bapak adalah orang yang akan mengelola sebagian hartanya. Untuk itu kemarin 10 hari bapa di kirim ke Negara Singapura untuk menimba ilmu bisnis, maafin bapa ya bu, nak.”
“ bapa, abis dari Singapura?”
“ iya nak, bapa bawakan oleh – oleh itu untuk kalian.”
“begini, kakek akan mengajak kalian tinggal dirumah sana, biar rumah tidak sepi dan mengakrabkan keluarga besar.
3 tahun kemudian,
Roni sudah menjadi pengusaha industri kaya raya, Roni masuk ke kampus elit, Taqwa menimba ilmu di SMA luar kota. Sedangkan Iman menjadi quro ulung. Apalagi  Suparman dan Putri kini menjadi tuan dan nyonya kaya raya. Pak salman hidup sangat bahagia bersama cucu, anak serta menantunya.
Merek bersama taat dan patuh pada agama, meski cobaan datang silih berganti.


   




 

.