Selasa, 16 Desember 2014

DOSEN LUCU


Hari ini rasanya saya bisa dikatakan aku sedang mengalami rasa senang, sedih, ataupun galau. Soalnya dalam semester pertawa ini dikampus Ungu saya sangat sangat dituntut untuk beradaptasi cepat dengan lingkungan kampus yang begitu super sibuk dengan tugas, tugas dan tugas.

Ia sih awalnya emang nyantai, beberapa minggu selanjutnya, ya aammmmpuuunnnn bingung ku memikirkannya juga. Sampe- sampe sering bengong melihat fenomena yang kurasakan.
Tapi dalam kehidupan yang sangat sibuk dan sibuk, aku yakin bisa melewati itu semua asalkan ada kemauan dan keikhlasan dalam menjalaninya.
Aku sempat berpikir bahwa didalam waktu yang sangat singkat ini, aku mana mungkin bisa menjalani dan melewati semua itu. Dan nyatanya aku bisa menjalani akitifitas saya dengan rasa ikhlas, meskipun kadang ada sesuatu hal yang tidak diingingkan terjadi.
Motivasi demi motivasi yang diberikan oleh sang dosen aku terima dan aku jalani, tapi ada yang seru dan unik dari salah satu dosen matakuliah saya yang satu ini.
Oke gaya mengajarnya emang siih aga membuat mata ini kantuk  karena bicaranya yang selowww.ahhhaaaaa
Tapi beliau sering menceritakan tentang anaknya yang sedang kuliah di jurusan kedokteran, terus menceritakan tentang awal beliau ketika masuk IKIP Bandung jurusan kesastraan Bahasa Indonesia, menceritakan tentang karya  karya tulisannya, tentang perjalanan beliau belajar dan mendapatkan beasiswa dan yang sangat sangat saya tersentuh dan sangat kena dalam diri saya yaitu ketika beliau menceritakan cita- citanya saat ingin menikah tapi harus lulus kuliah dulu, ahhhhhhhaaa, kebayang ga tuhh , ga jauh beda dengan anak jaman sekarang yang pengen cepet nikah.hhhhe. Dan menceritakan bagaimana awal kisahnya setelah lulus s1 keguruan, dan beliau ketika itu kebingugan dengan tanggung jawabnya sebagai seorang kepala keluarga pada waktu itu karena ketika sudah lulus s1 langsung menikah. Naas sekali saya mendengar beliau bercerita ketika melamar pekerjaan kesana kemari, sekolah- demi sekolah telah di tempuh untuk mencari lowongan pekerjaan , namun setiap sekolah yang beliau datangi di daerah beliau tinggal namun selalu saja ditolak, dan tolakannya itu di barengi dengan kata- kata yang sinis.
Akhirnya beliau memutuskan untuk ke Jakarta langsung menemui bapa kepala pendidikan. Dan di Jakarta beliau diterima dan disambut dengan baik. Akhirnya beliau di tugaskan di salah satu SPG di daerahnya kalo tidak salah oleh Kepala Pendidikan. Dan mengajar di sekolah- sekolah swasta.
Dan sangat mengenaskan sekali pada saat itu gaji pns tenaga pendidik hanya Rp 27.000. itu beliau untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dari sana semua.( Berceritanya sambil tertawa)
Ketika di kampus ungu lagi membludak mahasiswa dan kekurangan tenaga pendidik, akhirnya beliau mendaftarkan diri sebagi dosen dan Beliau bersyukur, sampai sekarang masih dapat memberikan ilmu di kampus ungu tercinta ini dan beliau berjanji takan pernah pindah dari Kampus Ungu ini. “Karena kampus ungu ini memberikan kesejahteraan hidupnnya sampai bisa naik haji” kata beliau.
Dan beliau memberikan amanat pada kita secara tidak langsung,
 bahwa hidup itu berakit- rakit kehulu,
berenang- berenang ketepian,
dan bersakit- sakit dahulu
bersenang- senang kemudian.
Beliau bercerita “bahwa hidup saya itu sekarang tinggal menikmati saja, haji udah, rumah punya, mobil punya, anak sudah mau sarjana, istri masih ada, jabatan pernah menduduki meskipun tidak rector, ( sambil ketawa dan senyum yang lebar)
Tinggal memberikan ilmu ke kampus setelah itu pulang”.imbuhnya.
Saya menangkap hikmah dibalik cerita itu bahwa setelah mendengar cerita tersebut, kita harus termotivasi  dan menambah semangat tambahan bagi kita agar bisa lebih sukses darinya.

Salam Sastra, Salam Budaya, Salam Indonesia