Minggu, 28 Februari 2016

POLITIK RAKUS



Hidup yang penuh dengan kepanaan ini membuat drama yang tak berujung. Apalagi banyak sekali sekenario yang tak terduga.  Dari kecil aku benci dan asing dengan yang namanya politik. Saling menjatuhkan, adu domba, berbohong pada public, berbohong pada diri sendiri sampai rela menggadaikan keimanan hanya untuk mencapai tujuan pribadi.

Waktu terus berlalu seiring dengan pertumbuhan usiaku, kini aku menginjak kedewasaan. Kehadiranku dalam dunia kampus membuatku gatal akan organisasi. Aku tak tahu kalau organisasi dengan cakupan kampus takan ada perpolitikan. Aku sadar setelah mengetahui hal itu aku jadi enggan untuk menyentuk organisasi di kampus.
Apa di kata, semua yang telah aku benci sejak kecil kini masuk dalam rawa kedjoliman. Sekarang aku sadar dan mengerti kenapa para politikus serta pejabat mempertahankan apa yang telah dikuasai  dan dimiliki.
Apalagi pas ada serangan dari public tentang kebijakan yang di ambil dan juga privasi . kebohongan serta mengkambing hitamkan teman, sahabat, musuh, atau yang belum di kenalpun bisa saja.
Tak ada yang tak mungkin dalam dunia pana ini, semua bisa saja terjadi. Sedikit sekali bahkan bisa dikatakan 1:100000 orang yang tidak menggunakan politik hitam untuk mencapai tujuan dan obsesinya.
Kejadian ini berawal pada saat saya sudah menjabat sebagi bupati diksatrasia, aku bingung dengan segala keadaan yang ada. Banyak orang yang mencemooh serta menurunkan martabat saya sebagai  ketua hima terpilih.
Dari sanalah saya menyusun strategi agar orang- orang yang mencemooh serta menurunkan harkat drajat saya berbalik menjunjung tinggi kembali privasiku.
Dari mendoktrin orang lain agar mereka percaya padaku sampai membohongi orang lain karena kebijakanku yang diambil. Itu semua saya lakukan demi masa depan organisasi yang saya pimpin. Tapi dalam dunia ini semua di benarkan dan dihalalkan tapi ideology yang saya punya bebrbenturan sekali dengan apa yang saya terapkan sehingga terkadang hidupku dipenuhi dengan renungan- renungan yang fatal dan berdampak pada segi ketaatanku pada agama serta tuhanku.
Renungan- renungan itu yang membuatku seperti mati berdiri dan lupa diri. Isi kepalaku seakan pecah tak terhitung. Setip detik selalu teringat akan perbuatan yang pernah dilakukan.
Hari demi hari aku berusaha untuk menghilangkan hal yang sudah berlalu tapi tak pernah ada hasilnya.
Semua Organisasi yang aku ikuti kini vakum karena terlalu stress memikirikan apa yang terjadi dalam hidupku. Namun aku sadar juga kalo ini semua adalah karma, karena aku dulunya membenci politik tak taunya sekarang aku terjerumus dalam jurang perpolitikan.
dan semoga kisahku saat ini menjadi pelajaran berharga bagiku dimasa yang akan datang bahwa politik yang terjadi di Negara kita ini berdampak pada siklus keimanan serta ketaqwaan pada sang maha pencipta.
Untuk itu saya mengajak pada aktivis mahasiswa serta elemen masyarakat untuk melawan politik hitam dengan membentangkan politik putih.  
Pesan terakhir dari saya, jangan pernah ada perasaan benci serta perangsa buruk tentang apapun dan siapapun karena semua hal yang kita rasakan sekarang akan terulang di hari yang kan datang.