Senin, 29 Februari 2016

DALAM KESENDIRIAN



Kutancapkan jari jemariku kedalam papan, melangkah dan bergerak dengan perlahan untuk menaklukan keluh kesahku. Ketika badai rindu, angin galau, banjir kesal menghantam logika serta naluriku dengan bertubi tubi, menyendiri di kamar dan menuangkan pada sebidang tulisan jalan pelampiasanku.

Orang orang selalu bilang aku kuper dan tak update dalam pergaulan, karena aku jarang terbang malam untuk mejadi kunang kunang. Tapi aku kura kura yang selalu di hantam masalah. Aku tak pernah menanggapi itu semua karena setiap orang mempunyai kesenangan masing masing. Termasuk aku yang menyendiri bila terjadi banyak bencana di dalam raga dan kalbuku.
Buku yang tersisihkan menangis karena aku tak memperhatikannya, pulpen, penggaris, tipex dan medsosku menangis dan cemburu karena aku lebih percaya pada tulisanku untuk pelampiasan.
Padahal ketika aku di terpa bencana untuk bangkit dari keterpurukan itu aku membutuhkan beberapa bulan untuk segar dan normal kembali. Aku bagaikan orang gila yang hidup normal, pikiranku entah melayang kemana menerobos ruang dan waktu dari dimensi lain. Sedang raga ini berkecimpung di perhelatan gosip.
Merenung , menulis,merenung, menulis, merenung, menulis. Itulah aku dengan segala imajinasi yang terkandung dalam logika.
Kebahagianlah menurutku hanyalah dongeng belaka, karena naluriku berkata kalau kebahagian hanya untuk orang yang sudah masuk dalam ridha allah, sedangkan di zaman sekarang ini banyak keseimbangan keseimbangan yang tidak terpenuhi yang membuat otaku bertanya- Tanya” apakah ini akhir zaman”.
Apakah akhir zaman ini seiring dengan bencana yang menerpaku setiap waktu? Waallahuallam bissowab.