Kamis, 15 November 2012

Pertumbuhan dan perkembangan islam


 Sebelumnya nich, apabila ada sobat yang mau nulis atau membaca tentang  materi ini thank you ya, 

. Pertumbuhan dan Perkembangan Islam
1. Zaman Jahiliyah
Arab sebelum Islam sering disebut Masa Jahiliyah (masa kebodohan). Hal itu disebabkan bangsa Arab sangat terbelakang dibanding peradaban sekitarnya. Bangsa Arab percaya pada berbagai takhayul, suka berjudi, minum-minuman keras, melakukan hubungan seksual secara bebas,
saling membunuh dan merampok antar suku, bahkan mengubur anak perempuan hidup-hidup karena dianggap tidak bermanfaat. Mereka pun umumnya buta huruf dan mengandalkan tradisi lisan dalam mewariskan pengetahuannya.
a.) Kondisi Alam Jazirah Arab
Jazirah Arab adalah semenanjung besar di Asia Barat Daya pada persimpangan Afrika dan Asia serta antara Laut Tengah dengan Samudera Hindia. Jazirah ini dibatasi oleh Laut Merah dan Teluk Aqabah di barat daya, Laut Arab di tenggara, serta Teluk Oman dan Teluk Persia di timur laut. Di masa kelahiran Islam, jazirah tersebut berada di antara Mesopotamia dengan Mesir dan di antara Kekaisaran Byzantium (Romawi Timur) dan Persia. Sebagian besar wilayahnya berupa padang pasir, kecuali daerah Yaman di selatan yang cukup sering mendapat hujan. Selain karena dilingkupi lautan pada sisi timur, selatan dan baratnya, serta padang pasir di utara, daerahnya yang tandus menyebabkan wilayah ini tidak pernah dijajah bangsa lain. Jazirah Arab tak memiliki danau atau sungai, sumber air diperoleh dari oasis (sumur mata air) dan wadi (sungai yang muncul ketika musim hujan).
Kondisi alam yang didominasi gurun menyebabkan masyarakatnya hidup berpindah-pindah (nomaden) untuk mencari padang rumput yang biasanya berada di sekitar oasis. Mereka disebut orang Badui yang hidup dari hasil peternakan dan terkadang dari merampok suku lainnya. Masyarakat dapat menetap dan membentuk kota jika oasis yang ada cukup besar dan permanen. Salah satu kota yang ada adalah Yatsrib dimana penduduknya hidup dari perkebunan kurma. Sementara itu posisi jazirah Arab yang strategis di persimpangan Afrika dan Asia, membuatnya dilalui dua jalur perdagangan. Jalur timur membawa barang dari India ke Byzantium melalui Teluk Persia, Sungai Tigris dan Syiria. Jalur barat membawa barang dari Habsyah (Ethiopia) dan Yaman melalui sepanjang tepian laut Merah lalu ke Syiria. Jalur barat melalui wilayah kekuasaan suku Quraisy di Mekkah, sehingga penduduk kota tersebut hidup dari perdagangan.
b.) Kehidupan Sosial Bangsa Arab
Kondisi hidup nomaden dan kalau pun menetap tidak dalam jumlah yang besar, menyebabkan mereka hidup bersuku-suku (tribe). Suku tersebut merupakan kumpulan dari beberapa kabilah (clan). Hidup mengembara menyebabkan mereka cinta kebebasan dan tidak suka diatur. Kondisi alam yang keras menjadikan mereka pemberani, suka berperang, dan sulit untuk bersatu. Antara satu suku dengan lainnya sering terjadi peperangan untuk memperebutkan pengaruh.
Bangsa Arab yang tinggal di daerah selatan berhasil meninggalkan pola hidup nomaden dan bahkan membangun kerajaan, yaitu kerajaan Saba. Hal ini dikarenakan wilayah yang subur membuat mereka dapat menetap dan mengembangkan pertanian. Terutama setelah mereka berhasil membangun bendungan Marib sebagai penampung air hujan dan menjadi sumber irigasi. Letaknya yang berada di perlintasan dagang antara India dengan Mesir membuat mereka mengenal peradaban lain dan menjadi lebih maju dibanding bangsa Arab yang tinggal di tengah Jazirah Arab. Kerajaan Saba sendiri akhirnya menjadi wilayah jajahan Kekaisaran Persia pada 575 SM.
Suku-suku yang tinggal di daerah utara berbatasan dengan negara-negara maju seperti Byzantium dan Persia sehingga mereka banyak mendapat pengaruh dari kedua negara tersebut. Orang-orang Arab di daerah utara ada yang kemudian menganut agama Yahudi dan Kristen, mengikuti kebanyakan penduduk Byzantium. Ada pula yang menganut agama Majusi yang merupakan agama penduduk Persia yang menyembah api. Bahkan ada suku-suku yang bersekutu dengan negara-negara maju tersebut, seperti suku Ghassan yang menjadi negara bawahan Byzantium serta suku Hira yang menjadi negara bawahan Persia.
c.) Kepercayaan Bangsa Arab
Awalnya bangsa Arab menganut agama Samawi yang dibawa oleh Nabi Ismail dan Nabi Ibrahim. Nabi Ibrahim berasal dari Mesopotamia namun kemudian hidup berpindah-pindah untuk menyebarkan agama sampai ke Mesir dan Syiria. Salah satu anaknya, Nabi Ismail, kemudian ditinggalkan di Jazirah Arab dan mereka kemudian membangun Kabah sebagai tempat peribadatan dan ziarah (haji) di Mekkah.
Agama Samawi lahir di Timur Tengah. Disebut Samawi (Agama Langit) karena para pembawanya (Nabi dan Rasul) menyampaikan bahwa agama mereka berasal dari langit (sedangkan agama lain merupakan produk kebudayaan manusia) untuk mengembalikan manusia pada jalan hidup yang berdasarkan Kitab Suci. Ciri khas agama Samawi adalah menyembah satu Tuhan (Monotheisme), keyakinan bahwa alam tidak kekal dan suatu saat akan musnah (Kiamat), serta meyakini adanya kehidupan sesudah mati dimana manusia akan memperoleh nikmat abadi atau siksa abadi tergantung dari perbuatan mereka sewaktu hidup. Yang termasuk agama Samawi adalah Yahudi, Kristen, dan Islam.
Sepeninggal Nabi Ismail, bangsa Arab terpengaruh tradisi bangsa-bangsa pagan (penyembah berhala) yang menjadi tetangga mereka. Saat berdagang ke Syiria mereka tertarik oleh berhala-berhala besar dan indah yang disembah bangsa Moab. Sehingga kemudian sebuah berhala besar, bernama Hubal, dibawa ke Mekkah dan dipajang di Kabah. Berhala tersebut dianggap sebagai perantara antara manusia dengan Tuhan. Dengan tujuan agar pemeluk berbagai kepercayaan dapat berziarah ke Ka’bah, maka semakin banyaklah berhala yang ditaruh di Kabah, hal ini selain menambah kekayaan suku Quraisy juga memperbesar pengaruh mereka terhadap suku Arab lainnya. Ketika Nabi Muhammad saw lahir, di Kabah sudah terdapat sekitar 360 berhala.
Selain Hubal, penduduk Mekkah juga menyembah Uzza. Ada juga Latta, berhala besar yang berada di kota Thoif, serta Manath di kota Yatsrib. Bangsa Arab menjadi Politheis, selain menyembah berhala, mereka juga menyembah bintang, jin, dan malaikat. Orang-orang Arab yang masih mengikuti agama Nabi Ibrahim disebut sebagai golongan Hanif.
d.) Suku Quraisy di Mekkah
Di antara suku-suku Arab, yang paling berpengaruh adalah suku Quraisy yang tinggal di kota Mekkah. Kota Mekkah dihormati karena memiliki Masjidil Haram yang didalamnya terdapat Kabah yang menjadi tempat berziarah berbagai suku. Penduduk Mekkah juga dianggap keturunan langsung dari Nabi Ismail. Selain itu kota Mekkah adalah pusat transit perdagangan di Jazirah Arab antara komoditi Yaman dengan komoditi Syiria sehingga penduduknya lebih maju dari suku lainnya.
Kedudukan kota Mekkah membuat gubernur Yaman, Abrahah, berencana menyerang Mekkah dan menghancurkan Kabah. Hal itu dilakukan karena Abrahah hendak membuat sebuah kuil besar yang menjadi pusat ziarah menggantikan Kabah, sehingga Yaman dapat memperoleh keuntungan ekonomis dari para peziarah tersebut. Namun pasukan gajah yang dipimpin Abrahah diserang gerombolan burung ganas sehingga mereka gagal menyerang kota Mekkah. Suku Quraisy lalu menyebut tahun tersebut sebagai Tahun Gajah untuk mengingat kegagalan pasukan gajah menyerang Mekkah. Di tahun itulah Nabi Muhammad lahir, 12 Rabiul Awal Tahun Gajah atau 20 April 571 M. Nabi Muhammad merupakan cucu dari Abdul Mutholib, pemimpin bani Hasyim, salah satu kabilah terkuat di suku Quraisy.
2. Kelahiran Islam
Dalam mendawahkan Islam, Nabi Muhammad selalu menyampaikan bahwa ia adalah penutup nabi-nabi agama Samawi, dan Islam bukanlah agama baru melainkan penyempurna agama yang dibawa para nabi sejak masa Nabi Adam. Hal ini pula yang menjadikan Masjidil Aqsha, Yerusalem, Palestina sebagai kiblat sholat pertama umat Islam di masa awal kelahiran Islam. Nabi Muhammad pertama kali menerima wahyu di Gua Hira pada 611M. Ia kemudian berdawah di Mekkah selama 13 tahun (610 622 M) dan di Yatsrib selama 10 tahun (622 632 M).
a.) Masa Dawah Sembunyi-Sembunyi (tahun 610 613 M)
Awalnya Nabi Muhammad melakukan dawah secara sembunyi-sembunyi dan terbatas pada orang-orang terdekatnya. Seperti kepada istrinya, Khodijah; sepupunya, Ali bin Abi Tholib; sahabatnya, Abu Bakar; budaknya, Zaid bin Haritsah. Metode dawahnya berantai dan diutamakan pada orang-orang yang masih dekat dengan agama Nabi Ibrahim, seperti Abu Bakar yang merekrut Utsman bin Affan, lalu Utsman merekrut lagi orang terdekatnya. Nabi Muhammad memprioritaskan pembentukan kader inti yang disebut assabiqunal awwalun. Penduduk Mekkah sendiri belum tahu akan kehadiran agama baru tersebut.
b.) Masa Dawah Terang-Terangan (tahun 613 619 M)
Nabi Muhammad mulai dawah secara terang-terangan, mendatangi tokoh-tokoh suku Quraisy dan tempat keramaian. Muncullah penolakan terhadap agama baru itu. Hal tersebut bukan hanya karena masalah agama namun karena masalah politik mengenai kekhawatiran bahwa bani Hasyim akan menguasai Mekkah. Juga masalah ekonomi dimana para pemahat patung tidak bisa lagi menjajakan dagangannya. Serta masalah sosial dikarenakan Islam menyerukan persamaan derajat antara bangsawan dan budak. Di masa ini banyak penduduk Mekkah, terutama orang-orang miskin, yang masuk Islam. Terjadilah intimidasi dan serangan kepada kaum muslimin. Nabi Muhammad tidak mendapat serangan karena dilindungi oleh kabilahnya, bani Hasyim. Meskipun banyak dari bani Hasyim yang tidak memeluk Islam, namun ikatan keluarga membuat mereka merasa wajib melindungi Nabi Muhammad.
Nabi Muhammad lalu meminta Negus Negusyi, penguasa Habsyah (Ethiopia), memberikan suaka kepada kalangan lemah dan miskin dari kaum muslimin. Nabi Muhammad sebelumnya telah mendengar bahwa Negus Negusyi adalah pemimpin yang adil. Pada 615 M, Negus Negusyi mengundang kaum muslimin datang ke negerinya. Dan dimulailah hijrah pertama umat Islam ke Habsyah, sementara Nabi Muhammad tetap tinggal di Mekkah. Para penentang Islam lalu mengajak seluruh suku Quraisy membuat perjanjian mengembargo kaum muslimin dan bani Hasyim pada 617 M. Hal ini membuat kaum muslimin dan bani Hasyim terkucil dan kelaparan. Akhirnya beberapa pemuka Quraisy simpati melihat penderitaan kaum muslimin dan bani Hasyim, dan kemudian membatalkan perjanjian yang mengembargo mereka.
c.) Mencari Basis Perjuangan Baru (tahun 619 622 M)
Pasca embargo, Nabi Muhammad menganggap dawah di Mekkah telah stagnan, banyak pengikutnya yang teraniaya. Nabi Muhammad memutuskan mencari basis perjuangan baru. Meskipun Habsyah telah memberikan suaka, namun letaknya terlalu jauh dari Mekkah, selain itu penduduk Habsyah pun telah memeluk agama Kristen. Nabi Muhammad lalu pergi ke kota Thoif, namun di sana Nabi Muhammad ditolak dan dihina.
Pencariannya sampai ke suku Hira di perbatasan Persia. Mereka mau menerima Islam dengan syarat Islam tidak ikut campur dalam politik karena dapat membahayakan hubungan suku Hira dengan Persia, namun Nabi Muhammad menolak syarat mereka. Di saat Nabi Muhammad tengah kesulitan mencari basis perjuangan baru terjadilah peristiwa Isra Miraj pada 621 M dimana Nabi Muhammad melakukan perjalanan (baik ruh maupun jasad) ke Masjidil Aqsha (Palestina) dan Sidratul Muntaha (di atas Langit ke Tujuh) dalam satu malam untuk menerima perintah Sholat. Peristiwa ini dimanfaatkan orang-orang Quraisy untuk menjuluki Nabi Muhammad sebagai gila dan pembohong. Namun hal tersebut membuat Nabi Muhammad semakin terkenal. Rombongan haji dari kota Yatsrib yang penasaran dan mengajak dialog Nabi Muhammad, kemudian menyatakan keislamannya dan mengajak Nabi Muhammad pindah ke Yatsrib.
d.) Pembentukan Negara Islam (tahun 622 628 M)
Nabi Muhammad hijrah pada 622 dan kota Yatsrib diubah namanya menjadi Madinah. Di Madinah Nabi Muhammad langsung mendirikan Masjid dan mempersatukan dua suku Madinah yang bermusuhan, yaitu suku Aus dan Khajraz. Nabi Muhammad juga mempersaudarakan kaum Muhajirin (orang Islam dari Mekkah) dengan kaum Anshar (orang Madinah yang masuk Islam), Nabi Muhammad lalu menjalin persahabatan dengan orang-orang Yahudi yang ada di Madinah. Semua itu tertuang dalam perjanjian yang disebut Konstitusi Madinah. Isi Konstitusi Madinah antara lain: Nabi Muhammad adalah kepala negara Madinah, jaminan kebebasan beragama bagi setiap orang, dan setiap warga Madinah wajib menjaga keamanan Madinah. Namun Mekkah masih menjadi ancaman bagi negara baru itu, sehingga terjadilah Perang Badar pada 624 yang dimenangkan Madinah. Mekkah membalas di Perang Uhud pada 625, boikot dari kaum Munafiqin (orang-orang yang masuk Islam untuk kepentingan materi) turut menjadi sebab kekalahan Madinah.
Pada 627 Mekkah berkoalisi dengan berbagai suku-suku Arab menyerang Madinah, sementara orang-orang Yahudi pun turut menyerang dari dalam Madinah. Nabi Muhammad berhasil bertahan dengan strategi Perang Parit (Khandak). Kekalahan dalam Perang Khandak telah melemahkan keberanian suku Quraisy dan sekutu-sekutunya, sehingga Nabi Muhammad kemudian pergi ke Mekkah pada 628 untuk melaksanakan haji. Suku Quraisy menolak kedatangan Nabi Muhammad, namun mereka pun tidak berani menyerang rombongan Madinah tersebut. Akhirnya terjadilah Perjanjian Hudaibiyah yang isinya antara lain gencatan senjata selama 10 tahun, orang Madinah boleh berhaji setahun kemudian, dan Madinah tidak boleh menerima pelarian dari Mekkah. Awalnya penduduk Madinah tidak menerima Perjanjian Hudaibiyah, terutama dengan poin dimana Madinah tidak boleh menerima pelarian dari Mekkah. Namun Nabi Muhammad menyatakan terdapat hikmah dari perjanjian tersebut.
e.) Menyebarkan Islam ke Berbagai Wilayah (tahun 628 632 M)
Perjanjian Hudaibiyah membuat suku-suku Arab menganggap hegemoni Mekkah telah beralih ke Madinah. Nabi Muhammad memanfaatkan dengan mengirim surat dan utusan ke berbagai suku dan negara untuk mengajak mereka masuk Islam. Diantaranya ke Kaisar Byzantium, Heraclius, yang sedang berada di Palestina; ke Kaisar Persia, Ibrewiez; penguasa Habsyah, Negus Negusyi; penguasa Mesir, Macoucus; penguasa Bushra, Syarahbil; penguasa Bahrein; penguasa Oman; penguasa Yaman; dan untuk suku-suku Arab sendiri Nabi Muhammad mengirim sekitar 96 surat dan utusan.
Di masa ini, Madinah berperang dengan komunitas terbesar Yahudi di Jazirah Arab, yaitu kota Khaibar. Hal ini dikarenakan orang-orang Yahudi tersebut selalu memancing suku-suku Arab untuk memusuhi Madinah. Setelah memenangkan Perang Khaibar, Madinah dikejutkan dengan dibunuhnya utusan mereka oleh suku Ghassan yang menjadi negara bawahan Byzantium. Nabi Muhammad lalu mengirim pasukan ke perbatasan Syiria. Suku Ghassan meminta bantuan Byzantium dan terjadilah perang di daerah Mutah. Ini adalah perang pertama Madinah melawan Kekaisaran Byzantium. Jumlah pasukan yang tidak seimbang menyebabkan tiga panglima Madinah terbunuh. Namun perang berakhir tanpa ada pihak yang menang, masing-masing pihak mundur ke wilayahnya. Perang Mu’tah semakin menaikkan pamor umat Islam karena menjadi bangsa Arab pertama yang berhasil memukul mundur Kekaisaran terbesar di masa itu.
Pada 630 M, suku Quraisy tiba-tiba menyerang suku Khuzaah yang merupakan sekutu Madinah. Hal ini berarti melanggar gencatan senjata. Nabi Muhammad kemudian memimpin pasukan Madinah beserta sekutu-sekutunya ke Mekkah. Suku Quraisy yang mendengar bahwa Madinah berhasil mengimbangi kekuatan Byzantium, akhirnya menyerah tanpa perlawanan. Setelah jatuhnya Mekkah (Fathu Mekkah) maka suku-suku Arab lainnya ikut memeluk Islam, kecuali Thoif. Pasukan muslim yang dikirim ke Thoif merasa sudah menjadi pasukan terkuat dan meremehkan lawan sehingga berhasil dijebak di Hunain. Setelah Nabi Muhammad mengadakan pengepungan, akhirnya Thoif menyerah dan masuk Islam. Nabi Muhammad lalu mengirim pasukan ke perbatasan Syiria pada 631 M untuk menyelesaikan urusan dengan Byzantium. Di Tabuk, pasukan Islam dan Byzantium bertemu, namun keduanya mundur setelah merasa tak akan ada yang menang lagi dalam pertempuran ini. Sesudah Perang Tabuk, Nabi Muhammad menghancurkan Masjid Dhiror yang merupakan tempat makar kaum Munafiqin.
Pada 632 M, Nabi Muhammad melaksanakan ibadah hajinya yang pertama dan terakhir (haji wada) dan mengumumkan bahwa Allah swt telah menyempurnakan Islam. Hal ini merupakan isyarat bahwa wahyu sudah selesai dan tugas Nabi Muhammad selesai. Tiga bulan kemudian Nabi Muhammad wafat. Saat itu Islam telah menyebar di Jazirah Arab dan sekitarnya. Orang Yahudi dan Kristen yang mengakui kedaulatan agama Islam, dibiarkan tetap memeluk agamanya masing-masing dan disebut sebagai golongan Ahlu Dzimmah yaitu orang yang dilindungi harta dan jiwanya.
3. Kekhalifahan
Setelah wafatnya Nabi Muhammad, kaum muslimin melakukan musyawarah untuk memilih pemimpin yang dapat menggantikan Nabi Muhammad. Karena Nabi Muhammad adalah Nabi terakhir maka penggantinya tidak disebut Nabi melainkan Khalifah. Orang yang terpilih sebagai pengganti Nabi Muhammad adalah Abu Bakar As Siddik, dan dimulailah masa Khulafaur Rasyidin (kekhalifahan yang mendapat petunjuk).
a.) Khulafaur Rasyidin
Abu Bakar 632 634 M:
  1. Melancarkan Perang Riddah untuk menaklukan suku-suku Arab yang murtad dan tidak mau membayar zakat
  2. Menumpas nabi-nabi palsu, seperti Tulaiha, Musailamah, dan lainnya
  3. Merintis pengumpulan dan pembukuan surat-surat Al Quran
  4. Munculnya Islam sebagai kekuatan baru dianggap berbahaya bagi Kekaisaran Byzantium dan Persia. Mereka lalu menghasut suku-suku Arab di perbatasan untuk melawan Islam. Namun perlawanan mereka berhasil dipatahkan dan bahkan mendorong Abu Bakar untuk mengadakan ekspansi ke luar jazirah Arab, yaitu ke Mesopotamia yang berada dibawah kekuasaan Persia pada 633 M dan ke Syiria yang berada di bawah kekuasaan Byzantium pada 634 M
Umar bin Khattab 634 644 M:
  1. Menertibkan administrasi pemerintahan, membuat Undang-Undang, membuat institusi-institusi negara seperti Baitul Maal (lembaga keuangan), dan menetapkan tarikh Hijriah
  2. Melanjutkan ekspansi; panglima Khalid bin Walid menghancurkan Persia pada 636 M, mengusir Byzantium dari Syiria, Palestina, dan Yordan pada 640 M, panglima Amru bin Ash menaklukan Mesir pada 639 M. Daerah-daerah taklukan Islam diberikan otonomi yang luas, yang tidak mau masuk Islam dibiarkan tetap memeluk agamanya namun sebagai gantinya harus membayar jizyah (pajak) sebagai pengganti membayar zakat yang diwajibkan bagi pemeluk Islam
  3. Umar bin Khattab dibunuh saat hendak sholat subuh oleh Abu Luluah, seorang Persia yang dendam karena Kekaisaran Persia hancur
Utsman bin Affan 644 656 M:
  1. Dibantu Zaid bin Tsabit, sekretaris Nabi Muhammad, membukukan dan menyebarkan mushaf Al Quran ke berbagai wilayah Islam
  2. Melanjutkan ekspansi ke Afrika Utara dan menaklukan suku Berber pada 645 M
  3. Membangun angkatan laut yang dipimpin Muawiyah, gubernur Syiria, dan berhasil menguasai pulau Siprus, Kreta dan Rhodes
  4. Masa pemerintahannya yang lama dan usianya yang semakin tua telah dimanfaatkan oleh kaum zindik (kelompok yang berpura-pura masuk Islam demi menghancurkan Islam) seperti Abdullah bin Saba, dengan menghembuskan isu bahwa Utsman menempatkan keluarganya (bani Umayyah) mengisi berbagai jabatan penting di Kekhalifahan. Hal ini menyulut protes dari Mesir, Kuffah, dan Basrah sehingga mereka datang berbondong-bondong ke Madinah (sekitar 1500 orang). Utsman dan penduduk Madinah membiarkan para pemrotes masuk kota Madinah karena menganggap mereka adalah rakyat yang berhak mengajukan keluhan pada khalifah. Namun begitu tiba di depan kediaman Utsman, para pemrotes tiba-tiba menerobos masuk sehingga menyebabkan Khalifah Utsman terbunuh
Ali bin Abi Tholib 656 661 M:
  1. Karena merasa bersalah, para pemrotes pun menyatakan bersedia dihukum atas terbunuhnya Utsman. Ali bin Abi Tholib yang terpilih menggantikan Utsman tidak tega jika harus membunuh sekitar 1500 orang pemrotes tersebut. Sehingga Aisyah, Tholhah dan Zubeir menganggap Ali tidak tegas terhadap para pembunuh Utsman, dan terjadilah Perang Jamal pada 656 M yang dimenangkan Ali
  2. Muawiyah (dari bani Umayyah) juga menganggap Ali tidak menghukum para pembunuh Utsman, sehingga terjadilah Perang Siffin pada 657 M. Saat Ali hampir menang, Muawiyah mengajak berdamai dan diterima oleh Ali. Hal ini menyebabkan sebagian pendukung Ali kecewa dan membentuk kelompok Khawarij yang memusuhi Ali dan Muawiyah.
  3. Kelompok Khawarij berhasil membunuh Ali saat hendak sholat subuh pada 661 M, Abdullah bin Saba kemudian mengumpulkan sisa pengikut Ali yang fanatik dan membentuk sekte Syiah, sementara Muawiyah kemudian terpilih menjadi khalifah pengganti Ali
b.) Dinasti Umayyah (ibu kota Damaskus, Syiria, 661 750 M)
  1. Sejak dinasti Umayyah memimpin umat Islam maka Khalifah dipilih berdasarkan garis keturunan sehingga tidak lagi disebut Khulafaur Rasyidin
  2. Khalifah pertama Muawiyah, Khalifah terbesar Umar bin Abdul Aziz (717 720 M) yang melakukan pembukuan hadits, Khalifah terakhir Marwan bin Muhammad yang digulingkan Abul Abbas As Saffah
  3. Wilayah kekuasaannya meliputi Spanyol India Barat Laut, dari perbatasan Cina Perancis
  4. Melakukan pembangunan infrastruktur, lembaga pos, gedung-gedung pemerintahan, jalan-jalan, dan rumah sakit
  5. Awalnya bangsa Arab menggunakan mata uang Byzantium dan Persia. Mata uang Islam pertama dibuat di masa Dinasti Umayyah oleh Khalifah Abd al-Malik (685-705)
c.) Dinasti Abbasiyah (ibukota Baghdad, 750 1258 M)
  1. Khalifah pertama Abul Abbas as Saffah yang menggulingkan dinasti Umayyah melalui gerakan bawah tanah selama 25 tahun serta bekerjasama dengan sekte Syiah
  2. Khalifah terbesar Al Mamun 847 945 M (anak Harun Ar Rasyid), mendirikan Baitul Hikmah yang merupakan lembaga penerjemahan, universitas, dan perpustakaan
  3. Memadukan peradaban Yunani (filsafat dan seni), India (ilmu pasti dan falak), Persia (sastra dan etika) serta membangun lembaga penelitian bintang
  4. Banyak ilmuwan yang lahir di masa ini antara lain; Al Kindi (filsafat), Ibnu Sina (kedokteran dan filsafat), Al Khuwarizmi (matematika dan astronomi)
  5. Akhir kekhalifahan ini ditandai oleh munculnya kekhalifahan-kekhalifahan tandingan, kelompok politik dan agama semakin marak (sekte Mutazilah sempat menjadi mazhab resmi negara), dan Khalifah sering dijadikan boneka oleh kalangan militer (Turki, Buwaihid, Seljuq)
  6. Menghadapi serbuan koalisi negara-negara Eropa dalam Perang Salib 1095 1291. Perang Salib dimobilisasi Puas Urbanus II yang hendak merebut Yerusalem. Terjadi sekitar 9 kali ekspedisi besar tentara koalisi Eropa ke wilayah Palestina dengan kemenangan silih berganti. Pada 1291 sisa tentara Salib dikalahkan di Acre/Akko oleh sultan Saifuddin Qalawun dari dinasti Mameluk
  7. Hancur oleh serangan Mongol pada 1258 di masa khalifah Mustasim bin Muntanshir. Jengis Khan memulai serangan Mongol pada 1219. Pada 1256 Baghdad berhasil dihancurkan oleh Hulago Khan (cucu Jengis Khan) yang bekerja sama dengan seorang menteri Abbasiyah (Muayyiduddien ibnu al Qami) yang beraliran Syiah. Tentara Mongol akhirnya dihancurkan di Ain Jalut (daerah Syiria) pada 1260 oleh tentara Mesir yang dipimpin Baibars dari dinasti Mameluk
d.) Dinasti Amawiyah di Andalusia/Spanyol (ibukota Cordova, 750 1492)
  1. Didirikan oleh Abdurrahman ad Dakhil pada 755, dari dinasti Umayyah yang melarikan diri saat penggulingan oleh Abbasiyah
  2. Islam masuk ke Spanyol pada 710 saat Count Julian (Gubernur Spanyol di Ceuta) meminta bantuan Gubernur Islam di Afrika Utara (Musa bin Nushair) untuk mengalahkan panglima Rodrigo yang merampas kekuasaan raja Visigoth (Vitiza). Pasukan Islam yang dipimpin Thariq bin Ziyyad berhasil membunuh Rodrigo pada 711
  3. Andalusia merupakan pembentuk mode (trend setter) negara-negara Eropa, baik dalam hal gaya hidup (arsitektur, fashion, dan musik) maupun ilmu pengetahuan. Universitas Al Hambra menjadi tempat belajar putra-putri raja Eropa
  4. Beberapa ilmuwan dari Andalusia antara lain; Ibnu Rusyd (kedokteran dan filsafat), Umar Khayam (sastra dan matematika), Ibnu Khaldun (sejarah dan sosiologi)
  5. Akhir kekhalifahan ini ditandai oleh perpecahan internal dimana setiap kota memiliki sultan sendiri. Kota terakhir, Granada, jatuh pada 1492 oleh serangan Raja Ferdinand dari Castilia yang bergabung dengan Ratu Isabella dari Arragon. Berdasarkan prinsip Reconquista (penaklukan kembali) diadakanlah pembersihan kaum muslim melalui pengadilan Inquisisi yang dipimpin Cardinal Ximenez de Cisneros sehingga pada 1600 tidak ada lagi muslim di Spanyol.
e.) Sejak masa Abbasiyah, muncul berbagai kekhalifahan di dunia Islam. Beberapa Dinasti Yang Berperan Penting
Kekhalifahan Fathimiah:
  1. Beraliran Syiah dengan sultan pertama Ubaidillah Al Mahdi 909 dan sultan terakhir Adhid Li Dinillah 1171
  2. Pusat kekuasaan di Tunisia lalu pindah pada 972 ke Kairo dan mendirikan universitas Al Azhar
  3. Sering bekerjasama dengan tentara Salib sehingga mengakibatkan umat Islam Mesir dipimpin Sholahudin al Ayubi menggulingkan pemerintahan Fathimiyah pada 1171 dan mengganti asas negara dari Syiah kembali ke Ahlus Sunnah wal Jamaah
Kekhalifahan Ayyubiyah:
  1. Pusat kekuasaan di Kairo, Mesir, dengan sultan pertama Sholahudin Al Ayubi 1171 dan sultan terakhir Asyraf bin Yusuf 1250
  2. Sholahudin Al Ayubi berhasil merebut kembali Yerusalem dari tentara Salib pada Oktober 1187, setelah sebelumnya pada pertengahan September, Sholahudin merebut kota Nablus, Jaffa, Toron, Sidon, Beirut, dan Ashkelon.
Tentara salib telah menguasai wilayah luas dari Irak utara ke pesisir Laut Tengah dan meliputi wilayah Israel sekarang selama hampir 200 tahun. Mereka mendirikan Kerajaan Latin sejak 1098 (hasil Ekspedisi Perang Salib Pertama 1095-1101), yaitu County Of Edessa (direbut kembali 1144 oleh Imaduddin Zanki gubernur Aleppo), Principality Of Antioch (direbut kembali 1268 oleh Sultan Baybars dari Mesir), County Of Tripoli (direbut kembali 1289 oleh Sultan Qalawun dari Mesir), dan Kingdom Of Jerusalem (sisa-sisanya direbut kembali pada 1291).
Dinasti Ayyubiyyah dan dilanjutkan Dinasti Mameluk berhasil mempersatukan beberapa wilayah strategis Muslim dalam menghadapi serangan asing.
Kekhalifahan Mameluk:
  1. Pusat kekuasaan di Kairo, Mesir, 1250 1584, yang berasal dari mantan budak dinasti Ayyubiyah
  2. Berperan mengalahkan serangan Mongol di masa Sultan Atabek Quthuz dan Baibars, serta mengusir sisa tentara Salib di masa Sultan Saifuddin Qalawun.
Pada 1260 pasukan Mameluk Mesir dibawah pimpinan Qutuz dan jenderalnya, Baybars berhasil mengalahkan Mongol dalam Perang Ain Jalut. Qutuz terbunuh dan Baybars kemudian mengklaim tahta Sultan Mesir untuk dirinya. Baybars lalu menyerbu wilayah tentara Salib di Arsuf, Athlith, Haifa, Safad, Jaffa, Ascalon, dan Caesarea. Satu persatu benteng tentara Salib jatuh hingga akhirnya 1268 Baybars menaklukkan Antioch, salah satu Kerajaan Latin di Timur Tengah, mengamankan front utara sekaligus mengancam Kerajaan Latin yang tersisa, Tripoli.
Sepak terjang Sultan Baybars terdengar sampai Eropa dan membuat gusar raja-raja Eropa. Raja Louis IX dari Perancis yang pernah dikalahkan dalam Perang Salib VII (1248 -1258) oleh pasukan Mesir, menyusun kekuatan besar untuk membalas. Tapi bukannya menyerang Mesir, Louis malah menyerbu Tunisia dengan maksud menusuk Baybars dari belakang (Ekspedisi Perang Salib VIII). Tak lama setelah mendarat di Tunisa, Louis IX mati karena wabah penyakit pada 1270. Pasukan Salib pimpinan Louis lalu tercerai berai. Perang Salib VIII berakhir bahkan sebelum dimulai.
Di saat yang sama, Pangeran Edward (kelak Edward I) dari Inggris bersama pasukannya menuju Acre untuk membantu Bohemund VI (Count Tripoli) menghadapi Baybars (Ekspedisi Perang Salib IX). Setelah Edward tiba di Acre, ia mengirimkan tawaran persekutuan kepada Mongol untuk menghadapi Baybars. Tawaran itu disetujui Abagha, panglima Mongol di Baghdad. Namun gabungan Kristen - Mongol tak mampu menaklukkan Baybars, bahkan Edward terpaksa membuat perjanjian dengan Baybars dan kembali ke Inggris tahun 1272.
Edward lalu membujuk Paus Gregory X untuk meluncurkan ekspedisi Perang Salib baru, tapi seruan Paus Gregory di Council of Lyon tahun 1274 tidak mendapat sambutan. Para penguasa Eropa terlanjur patah semangat dan tidak berniat melanjutkan ekspedisi yang telah banyak menemui kegagalan. Tahun 1291, Acre jatuh ke tangan Mesir maka Kerajaan Latin terakhir pun berakhir sudah. Dan dengan kejatuhan Pulau Ruad tahun 1302, sisa-sisa Crusader (tentara Salib) di Levant (Timur Tengah) akhirnya tersapu habis.
Kekhalifahan Mughal India:
  1. Pusat kekuasaan di New Delhi dengan sultan pertama Baber 1526, dan sultan terakhir Bahadur Syah 1857
  2. Berasal dari bangsa Mongol yang memeluk Islam
  3. Salah satu sultan terkenal adalah Syeh Jehan 1627 1659 yang membangun Taj Mahal

 

Kekhalifahan Turki Utsmani (Ottoman):
  1. Sultan pertama Utsman I, 1299, berasal dari bangsa nomaden Asia Tengah
  2. Sultan Muhammad II bin Murad II menaklukkan Konstantinopel pada 1453 dan menjadikannya pusat kekuasaan dengan nama Istambul
  3. Sultan Salim I, 1512, melakukan berbagai penaklukan dan menyerang kekhalifahan Safavid yang berusaha menyebarkan aliran Syi’ah
  4. Sultan Sulaiman II, 1520-1566, dianggap sebagai era keemasan dengan membangkitkan kembali budaya penelitian serta pengembangan sains, ekonomi, dan militer
  5. Sutan terakhir Abdul Majid II, 1924, digulingkan Mustafa Kemal yang mengubah sistem khilafah dengan republik dan menghapus sistem Islam dari negara
Penyebab runtuhnya Turki Utsmani
  1. Lemahnya kepemimpinan di paruh akhir kekhalifahan membuat Jennizary (militer) ikut campur dalam politik sehingga pemerintah sibuk dengan masalah internal, sementara pejabat melakukan korupsi. Hal ini biasa terjadi pada negara yang terlalu lama berdiri (sama seperti Abbasiyah). Solusi kembali ke cara pemilihan khalifah seperti di masa Khulafaur Rasyidin (untuk menjaga agar khalifah tetap orang terbaik) gagal di masa Sulaiman II
  2. Perpecahan akibat bangkitnya sentimen kesukuan. Setiap suku mengedepankan nasionalisme-nya sehingga muncullah PanTurkisme, PanArabisme, dan lain-lain
  3. Sebagian masyarakat mulai mencontoh Eropa Barat yang telah menjadi trend setter dunia, sehingga menganggap sistem kekhalifahan sudah ketinggalan zaman
  4. Musuh laten di dalam negeri. Pemberontakan yang menggulingkan kekhalifahan berasal dari bangsa-bangsa yang diduduki Turki Utsmani. Mereka membalas dendam dengan membangun gerakan bawah tanah. Seperti Mustafa Kemal dari gerakan Turki Muda, yang berbasis pada komunitas Yahudi Dunmah. Sebelumnya, FreeMasonry (gerakan Kebatinan Pluralis) berhasil menempatkan Midhat Pasha dari Yahudi Dunmah, sebagai penyusun Konstitusi 1876. Konstitusi ini ditolak sultan Abdul Hamid II karena dianggap bertentangan dengan Syariat
  5. Negara-negara Eropa, khususnya Inggris, masih menganggap Turki Utsmani sebagai ancaman sehingga memberikan dukungan pada gerakan separatis, seperti dukungan pada Turki Muda dalam Konferensi Berlin 1908